Follow detikFinance
Minggu 14 May 2017, 08:10 WIB

Mengenal Utang Produktif dan Konsumtif

Affandi - detikFinance
Mengenal Utang Produktif dan Konsumtif Foto: Muhammad Ridho
Jakarta - "Kalau enggak utang, enggak bisa punya apa apa...." itulah yang sering terdengar di sekitar kita....

Apa yang terlintas di benak Anda jika mendengar kata 'utang'? Utang adalah suatu kewajiban seseorang untuk membayar sejumlah uang kepada pihak lain. Benarkah utang selalu berkonotasi negatif? Merugikan, menakutkan karena takut tidak dapat membayar dan akan mengalami masalah keuangan yang tidak ada ujungnya..?

Bagaimana kalau Anda harus berutang? Jika harus berutang maka pastikan penggunaan utang harus sesuai dengan tujuan. Sesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan membayar dalam waktu tertentu. Jika digunakan dengan baik, utang dapat menghasilkan keuntungan lebih besar karena penghasilan yang didapatkan dari penggunaan dana utang secara produktif.

Secara umum utang dibagi menjadi dua jenis yaitu utang produktif dan utang konsumtif.

1. Utang produktif
Segala jenis utang yang mempunyai ciri:
Nilai aset yang dibeli dengan cara berutang akan meningkat seiring dengan berjalannya waktu dan atau aset yang dibeli dengan cara berutang dapat memberikan/menghasilkan income yang sama atau lebih besar dari biaya cicilan utang (pokok dan bunga).

Contoh utang produktif: Kredit pemilikan apartemen, kredit pemilikan ruang usaha, kredit pemilikan mobil, apabila mobil/kendaraan bermotor disewakan/menghasilkan income

2. Utang konsumtif
Segala jenis utang yang mempunyai ciri:
Nilai aset yang dibeli dengan cara berutang akan turun (depreciate) sejalan dengan waktu. Aset yang dibeli dengan cara berhutang tidak dapat memberikan/menghasilkan income yang sama atau lebih besar dari biaya cicilan utang (pokok dan bunga). Tidak memerlukan jaminan dan suku bunga sangat tinggi.

Aturan main dalam berutang
1. Perhatikan rasio utang dengan penghasilan Anda.
Total utang Anda tidak boleh lebih dari 30 % penghasilan utama keluarga (suami atau istri), bukan penghasilan digabung. Pada saat Anda memasuki rasio 45% dari penghasilan utama dipakai untuk membayar cicilan utang, maka Anda masuk kedalam katagori berbahaya (kemungkinan bangkrut).

Hitung cicilan (max 30 %) dari penghasilan utama saja (suami atau istri), bukan dari penghasilan gabungnan karena apabila pasangan Anda tidak bisa 'menyumbang' penghasilan maka rasio hutang keluarga Anda akan meningkat.

2. Gunakan kartu kredit untuk memudahkan transaksi.
Sebelum Anda menggesek kartu pastikan bahwa Anda memiliki sejumlah dana yang akan Anda pakai untuk dibayarkan di akhir bulan.

3. Pada saat Anda terbelit utang kartu kredit dan tidak bisa melunasi sekaligus, lakukan pembayaran bertahap dengan membayar lebih pada kartu kredit dengan suku bunga tertinggi.

4. Jangan pernah mengganti (menukar) utang kartu kredit atau hutang tanpa jaminan dengan utang yang menggunakan jaminan. Utang dengan jaminan memiliki konsekuensi Anda akan kehilangan aset (jaminan) Anda apabila Anda tidak dapat membayar utang-utang Anda. Apabila Anda tidak bisa membayar utang kartu kredit atau utang tanpa jaminan lainnya, lembaga keuangan tidak bisa 'mengambil' aset Anda secara sepihak.

Yuk perdalam tentang utang yuk, di mana belajarnya? Coba cek di sini: Untuk bulan Mei ada kelas Basic Financial Planing complit bergelar Registered Professional Planner, info buka di sini, Selain itu ada workshop regular Cara kaya dengan reksa dana tanggal 21 Mei di sini. Dan juga workshop komunikasi yang menghipnotis (hypnotic communication) orang sering pakai untuk hypno selling, info buka di sini, sementara Ramadan ada kelas Syariah lho tanggal 9-11 Juni Info di sini. (wdl/wdl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed