Follow detikFinance
Kamis 19 Oct 2017, 06:52 WIB

Begini Keuangan Anda Seharusnya Ketika Usia 50 Tahunan (2)

Aidil Akbar Madjid - detikFinance
Begini Keuangan Anda Seharusnya Ketika Usia 50 Tahunan (2) Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Menyambung dari tulisan sebelumnya bahwa Perencanaan Keuangan bagi anda yang berusia 50 tahunan atau mau memasuki usia 50 tahun lebih unik dibandingkan usia lain. Di tulisan sebelumnya sudah dibahas 2 hal yang harus anda ketahui dan persiapkan. Nah tulisan ini akan membahas tuntas apa saja yang harus persiapkan.

3. Siapkan biaya kesehatan dan perawatan di masa pensiun
Ketika anda sudah pensiun maka kesehatan perlahan-lahan cenderung menurun. Sementara itu biaya sakit dan rumah sakit semakin mahal. Maka sangat bijaksana bila anda mempunyai biaya kesehatan atau asuransi kesehatan. Tapi bila anda beli asuransi diusia 50 tahunan, maka kemungkinan besar premi yang dibayarkan akan sangat mahal.

Selain itu ketka kita panjang umur nanti kita akan merasakan kesepian karena teman-teman yang sudah 'pergi' dan keluarga kita yang mungkin tidak sempat mengurus kita secara penuh waktu. Di luar negeri sudah popular tempat bernama Nursing Home alias Rumah Jompo. Berbeda dengan Panti Jompo yang 1 kamar diisi beramai-ramai (20 orang atau lebih) rumah jompo jauh lebih manusiasi karena kita serasa tinggal di rumah sendiri (1 kamar isi 2-3 orang saja) dengan perawatan medis yang mumpuni. Nah, jasa ini tentu saja tidak murah. Di luar negeri sudah popular Asuransi bernama Long Term Care (LTC) untuk membayar biaya-biaya ini. Di Indonesia keberadaan rumah jompo sudah mulai dideteksi akan tetapi asuransinya belum anda. Anda yang masih muda (usia 20 – 30 tahunan) disarankan mengambil asuransi jenis ini bila sudah mulai ditawarkan di Indonesia.

4. Investasi sebanyak-banyakanya
Anda hanya punya waktu antara 5-8 tahun lagi (bagi kebanyakan orang yang pensiun usia 55-58 tahun), maka inilah waktu untuk 'spint' alias investasi sebanyak-banyaknya, kecuali bila anda sudah punya rencana cadangan. Apabila anda ingin berinvestasi pada properti (karena dinilai kenaikannnya tinggi dan cepat), maka pastikan komposisi aset likuid dan aset tetap anda cukup banyak di aset likuid. Mengapa? Meskipun properti dinilai naik dengan cepat, akan tetapi properti sangat tidak likuid, terutama dalam kondisi yang tidak menentu seperti saat ini. Anda harus menawarkan 20-30% dibawah harga pasar bila ingin properti anda laku terjual.

Ada perhitungan rasio minimum untuk aset likuid yang harus anda penuhi dan jumlahnya semakin meningkat mendekati anda memasuki masa pensiun. Bila anda ingin membeli properti ada baiknya belilah dalam unit atau ukuran kecil dengan nominal di bawah Rp 500 juta – Rp 800 juta nilai saat ini agar mempermudah anda untuk menjualnya di kemudian hari.

5. Bisnis Atau Tidak Berbisnis?
Bila anda baru memasuki atau akan memasuki usia 50 tahunan, maka anda masih punya kesempatan untuk memulai suatu bisnis. Mengapa? Karena bisnis, apapun jenisnya, pasti mengandung risiko. Dan statistik bisnis mengatakan bahwa 80% bisnis gagal di 1 tahun pertama, dan 90% dari yang lolos di tahun pertama akan gagal di tahun ke 5. Artinya mumpung masih ada waktu 5-8 tahun lagi, anda masih mampu gagal berbisnis dan kehilangan uang karena anda masih punya penghasilan rutin bulanan, dengan catatan dana untuk berbisnis nominalnya kecil saja.

Bila anda sudah usia 50 tahunan jalan menuju usia pensiun, anda harus berpikir ulang lagi untuk memulai usaha. Hal ini agak bertentangan dengan pelatihan yang selama ini diberikan dari tempat anda bekerja. Biasanya ketika karyawan memasuki Masa Pra Pensiun (MPP), maka karyawan akan diberikan pelatihan wirausaha. Hal ini menurut saya tidak cocok. Apabila pekerjaan anda selama ini dibelakang meja (bukan sales dan marketing) maka anda akan kesulitan untuk memulai menjadi seorang wirausaha, apapun jenisnya.

Banyak orang juga menawarkan untuk mengambil franchise untuk meminimalisir risiko, harap berhati-hati akan hal ini. Ada franchise yang memang terbukti bisa berjalan dan sukses dan sudah berjalan dalam jangka waktu lama. Tapi banyak juga franchise yang tumbang di tengah jalan. Yang harus diingat adalah franchise juga sebuah bisnis yang selayaknya harus diawasi secara rutin. Bila anda berpikir franchise sama seperti menaruh deposito dan anda mendapatkan keuntungan bulanan, anda salah besar.

Alternatif lain adalah dengan memanfaatkan aset produktif semisalnya membuat kontrakan atau kos-kosan. Atau apabila anda sedikit mau repot tapi mendapatkan potensi penghasilan lebih besar anda bisa menawarkan properti anda pada situs online seperti AirBnB atau Booking.com . Apabila anda tinggal di properti yang sama anda akan bisa bertemu banyak orang dari berbagai kota bahkan dari berbagai negara.

Strategi terakhir adalah salah satu strategi yang relatif aman dibandingkan mencoba hal-hal lain. Karena anda berinvestasi pada aset tetap yaitu properti di mana nilai properti relatif naik dalam jangka panjang, meskipun untuk mencairkannya akan butuh waktu.

Masih banyak hal-hal yang bisa dibahas akan tetapi dalam bentuk tulisan akan terbentur dengan jumlah kata dan kalimat. Akan lebih baik bila anda belajar langsung dikelas dan workshop yang kami adakan. Di bulan Oktober akan ada workshop mengelola keuangan dan gaji CPMM di Jakarta info di sini sementara untuk Kaya Raya dengan Reksa Dana Jakarta info buka di sini berbarengan dengan workshop Intermediate Financial Planning info buka di sini. Sementara untuk bulan November akan ada kelas Basic Financial Planning lagi, info bisa dilihat di sini. Selain itu bisa juga bergabung di akun telegram group kami dengan nama Seputar Keuangan. (wdl/wdl)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed