Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 24 Apr 2018 06:56 WIB

Tips Investasi di Indonesia ala Aidil Akbar (1)

Aidil Akbar Madjid - Aidil Akbar Madjid & Partners - detikFinance
Foto: Muhammad Ridho Foto: Muhammad Ridho
Jakarta - Dalam banyak kesempatan (seminar, talkshow, mengajar kelas, mengajar inhouse, mengajar workshop, tampil di media) dan lain sebagainya, pertanyaan yang sering muncul adalah, "mas, lo itu kalo investasi seperti apa sih? Gue pengen tau donk racikan portofolio lo."

Wah pada penasaran nih sama racikan investasi saya? Sebenarnya dan sejujurnya tidak ada yang istimewa dengan racikan investasi saya pribadi, apalagi ditambah saya tidak punya waktu untuk memantau pergerakan setiap produk investasi dikarenakan harus mengajar dan mengisi seminar / kelas / talkshow keliling Indonesia.

Tapi oke lah karena banyaknya permintaan, mungkin akan saya berikan beberapa tips yang bisa membantu anda sebagai pembuka wawasan. Harus dipahami profil risiko saya adalah agresif atau bahkan sangat agresif, oleh sebab itu racikan portfolio ini bukan untuk semua orang, terutama anda yang mempunyai profil risiko moderate dan konservatif.

Racikan 1. Mau Cepat Kaya? Ya Berbisnis
Tidak ada racikan yang paling paten, bila anda ingin cepat kaya, ya anda harus berbisnis, titik. Yes, ketika kita sibuk membicarakan return on investment yang 10%, 12%, 15%, 20% per tahun, dengan berbisnis anda bisa mendapatkan return 2-5% tersebut per bulan net.

Di sini saya beri angka konservatif, karena ketika kita berbisnis keuntungan dari bisnis bisa lebih besar lagi. Minimum keuntungan kotor (belum dikurangi biaya sewa dan gaji karyawan, dll) rata-rata berkisar antara 50-100% dari biaya. Sehingga mencari keuntungan alias return 2-5% di dalam sebuah bisnis adalah suatu hal yang tidak sulit.

Permasalahannya adalah, bisnis penuh dengan risiko. Yang selama ini disebutkan di dalam seminar dan acara-acara sering kali adalah hal-hal baiknya saja. Padahal berapa banyak orang ketipu atau gagal ketika berbisnis.

Yes, bisnis itu kejam sekali, anda yang berhasil adalah orang-orang unggulan. Saya sendiri, berapa banyak usaha saya tutup dan tidak kapok lalu buka lagi. Semakin hari semakin terlihat pola jenis usaha apa yang cocok dengan diri saya dan kondisi waktu saya. Usaha tersebutlah yang kemudian saya tekuni.

Racikan 2. Properti Tetap Unggulan
Dulu ketika saya masih kecil melihat ibu saya yang hobi tanah dan rumah (maklum ada darah Betawi nya), agak sedikit bingung. Ketika dewasa dan sudah menjadi konsultan sekalipun saya tetap bertanya-tanya seberapa ampuhnya properti tersebut sebagai wahana investasi.

Padahal ketika itu saya sendiri beranggapan bahwa properti itu investasi kuno, karena lebih seru main saham, obligasi dan reksa dana.

Ternyata waktu itu saya salah. Pasca Global Crisis Subprime mortgage, harga properti di Indonesia naik gila-gilaan. Bahkan saya sendiri pernah mengalami properti yang naik 50-100% per tahun.

Apakah masih bertahan? Kemungkinan masih. Apakah bisa naik gila-gilaan seperti dulu? Sepertinya tidak, tapi yang pasti returnnya cukup stabil.

Kelemahan dari properti adalah harganya yang relatif sudah tinggi di beberapa tempat. Akan tetapi bila permintaanya masih banyak berarti masih punya potensi untuk naik lagi meskipun tidak setinggi dulu.

Adapun membeli dengan menggunakan kredit KPR juga tetap saja tinggi karena harga propertinya yang sudah terlanjur tinggi. Hati-hati dengan kredit, perhatikan rasio cicilan anda.

Kelemahan dari properti yang lain adalah susahnya menjual properti. Likuiditas bukan kawan baik bagi properti. So ketika anda invest di properti selalu perhatikan likuiditas aset anda yang lain, jangan sampai rasio likuiditas anda menjadi rendah dan anda kesulitan menjual properti anda ketika anda sendang kesulitan keuangan.

Racikan 3. Investasi Selalu Agresif
Anda ingin berinvestasi, terutama untuk jangka Panjang? Always Go Aggressive. Pilihan saya ya hanya saham dan reksa dana saham. Dalam kondisi kurang stabil seperti sekarang beberapa reksa dana Campuran bisa menjadi pilihan. Saya pribadi lebih suka saham secara langsung, akan tetapi karena tidak punya waktu, saya akhirnya harus menyerah ke reksa dana saham.

Oh ya satu lagi, kalau invest di reksa dana anda harus sabar yaaaaa. Reksa dana tidak akan memberikan anda return dalam waktu cepat. Anda butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa menikmati kenaikan yang relative tinggi pada investasi anda.

Ini mungkin bisa dibilang salah satu kelemahan reksa dana, tapi lagi-lagi sebagai perencana keuangan kan memang rekomen reksa dana, khususnya yang saham, untuk jangka panjang, bukan jangka pendek.

Tiga racikan ini masih opening saja alias permulaan. Sebenarnya banyak sekali rahasia investasi dan pemilihan produk yang saya sharing di kelas-kelas Perencana Keuangan yang saya ajar baik di kampus maupun kelas public.


Nah, anda yang berminat bisa cek kelas atau workshop yang dilaksanakan oleh tim IARFC Indonesia https://ow.ly/NbPy30gC3Dy atau tim AAM & Associates http://ow.ly/pxId30gC3BB.

Di Jakarta dibuka workshop Mengelola Gaji dan Mengatur Uang bulanan sehari info http://bit.ly/PMM0418 dan Belajar Menjadi Kaya Raya dengan Reksa Dana, info http://bit.ly/WRD0418.

Sementara, di luar kota, dibuka worshop sehari Mengelola Gaji di Surabaya info http://bit.ly/PMSUB18 dan Workshop Kaya dengan Reksa Dana info http://bit.ly/RDSUB18. Tidak mau kalah dengan Surabaya, ada juga workshop di Bali info http://bit.ly/PMBL518 dan http://bit.ly/RDBL518 serta di Manado info http://bit.ly/PMMD518 dan http://bit.ly/RDMD518.

Sementara untuk ilmu yang lebih lengkap lagi, anda bisa belajar tentang perencanaan keuangan komplit, bahkan bisa jadi konsultannya dengan sertifikat Internasional bisa ikutan workshop Basic Financial Planning, kelas baru di bulan Juli awal.

Siap-siap juga awal bulanan Ramadan ada kelas Perencanaan Keuangan Syariah juga, info http://bit.ly/IFP0518, kelasnya hanya setahun sekali lho di bulan Ramadan saja.

Anda bisa diskusi tanya jawab dengan cara bergabung di akun telegram group kami "Seputar Keuangan" atau klik t.me/seputarkeuangan.

Di tulisan berikutnya saya akan tambahkan lagi bocoran-bocoran pengalaman saya berinvestasi di Indonesia yang ternyata berbeda dengan di Amerika, apalagi beda jauh dari text book. Siap-siap tunggu tulisan berikutnya (kalau tidak lupa, plus kalo waktunya memungkinkan).

Tabik.

(ang/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com