Follow detikFinance
Jumat, 22 Jun 2018 06:56 WIB

Jangan Bokek Saat Pensiun

Eko Endarto - detikFinance
Foto: Rachman Haryanto Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Setiap orang akan sampai di posisi ketika ia harus pensiun. Pensiun memang bisa diartikan atau didefinisikan beragam.

Namun menurut saya, pensiun adalah ketika seseorang meninggalkan profesi lamanya dan harus masuk ke profesi baru. Misalnya seorang karyawan yang telah berusia 55 tahun dan harus melepas statusnya sebagai karyawan suatu perusahaan, maka dia bisa disebut sudah pensiun.

Atau seorang pengusaha yang kemudian menyerahkan perusahaannya kepada anaknya dan dia mengurus usaha atau bisnis lainnya atau tidak bisnis sama sekali maka itu juga bisa disebut pensiun.

Kondisi pensiun sangat berbeda dengan kondisi sebelum pensiun. Sebab diri kita diciptakan Tuhan bukan seperti mesin yang bisa diganti sparepart atau diremajakan masinnya untuk dapat bekerja lagi di pekerjaan yang sama.

Sebagai manusia kita harus manyadari bahwa kondisi fisik dan mental tidak bisa bohong. Jadi pasti akan berbeda antara sebelum dengan sesudah pensiun. Karena perbedaan tersebut, maka pensiun harus disiapkan, termasuk di keuangan.

Karena banyak terjadi orang tidak mempersiapkan kondisi keuangan saat pensiun, sehingga masa pensiunnya menjadi lebih berat dibandingkan saat sebelum pensiun.


Beberapa hal yang menjadi alasan kenapa keuangan pensiun harus disiapkan:

1. Masa pensiun makin panjang
Sebuah penelitian menyebutkan bahwa rata-rata orang Indonesia menjalani masa pensiunnya selama 25,8 tahun. Artinya setelah pensiun kita akan hidup selama lebih kurang 26 tahun lagi sampai dengan meninggal.

Dan angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan 10 tahun lalu. Seperti disebutkan di atas, akan manjadi masalah bila selama 26 tahun ke depan setelah pensiun kita tidak punya uang. Jadi perhitungkan pensiun Anda.

2. Kelahiran makin rendah
Data dari BPS menyebutkan tingkat kelahiran di negara kita makin lama makin kecil. Sebagai ilustrasi saja, 20 tahun lalu seseorang dengan jumlah anak kurang dari 3 bisa dikatakan cukup aneh, karena saat itu rata-rata pasangan berkeluarga memiliki anak minimal atau lebih dari 3.

Bandingkan sekarang, kebalikannya anak lebih dari 3 akan jarang terlihat. Artinya masa pensiun besok makin sedikit orang muda yang akan mensubsidi orang yang pensiun.


3. Nilai uang makin turun
Hampir pasti terjadi di semua negara bahwa nilai uang mereka makin lama makin turun dan harga makin naik. Memang sih tidak sama di semua negara, tapi Indonesia sendiri, inflasi cukup tinggi dan nilai uang terus turun.

Artinya uang yang kita dapatkan dan kumpulkan saat pensiun bisa jadi enggak cukup untuk menghidupi kita selama 26 tahun.

4. Fisik dan "harga" makin turun
Kebalikan dengan harga barang, kondisi fisik kita dan 'harga' seseorang setelah memasuki masa pensiun makin turun. Artinya akan lebih sulit bagi seseorang untuk bisa menyelesaikan pekerjaan yang sama, dan tidak mudah untuk bisa diterima untuk bekerja atau menyumbangkan ide.

Jadi harus diakui keberadaan seseorang sudah masuk ke siklus turun. Artinya turun juga pemasukan yang bisa diterima.

Kalau mau jujur masih banyak lagi kenyataan yang menjadi pertimbangan kenapa seseorang harus mempersiapkan kondisi keuangannya saat pensiun. Namun hal tersebut tidak bleh menjadikan kita takut atau menjadikan pensiun sebagai ancaman.

Songsong dengan percaya diri, karena toh setiap orang akan sampai masanya. Namun mereka yang menang adalah mereka yang menyadari dan mempersiapkannya. (ang/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed