Follow detikFinance
Sabtu, 23 Jun 2018 09:01 WIB

Bingung, Asuransi Pendidikan atau Investasi Pendidikan? (1)

Marviarum Eka Ramdiati - Aidil Akbar Madjid & Partners - detikFinance
Foto: Rachman Haryanto Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Tahun ajaran baru akan dimulai. Kali ini momentumnya setelah suasana Lebaran. Tentunya hal ini sangat mempengaruhi terutama dari segi finansial.

Sudahkah Anda menyiapkan dana untuk kebutuhan sekolah? Terutama untuk membeli kebutuhan alat tulis, sepatu, buku dan perlengkapan lainnya. Jangan sampai Anda terutama yang memiliki anak, tidak memiliki persiapan karena sudah Anda habiskan di saat Lebaran sehingga untuk membeli kebutuhan sekolah Anda berutang.

Bagaimana dengan kebutuhan pembayaran uang sekolah. Biaya uang sekolah tentunya sudah disiapkan jauh-jauh hari dan dibayarkan di awal periode. Bagi orang tua yang anaknya masuk ke jenjang pendidikan baru harusnya sudah mempersiapkan beberapa bulan sebelumnya.

Seperti yang terjadi pada klien saya. Sekitar tiga bulan yang lalu dia menceritakan pengalaman pribadinya yang kecewa karena ayahnya baru saja mencairkan asuransi pendidikan adiknya yang paling kecil.

Dana pencairan tersebut jauh dari jumlah yang dibutuhkan. Nilainya hanya Rp 9 juta. Sedangkan sekarang ini, biaya untuk masuk universitas mencapai angka puluhan juta. Mau tidak mau, keluarga mereka menjual salah satu aset kendaraan. Asuransi pendidikan tersebut dibeli sejak adiknya duduk di kelas 1 SD dengan premi sebesar Rp 3,6 juta setahun.

Di saat yang sama, kebetulan saya juga mencairkan dana investasi pendidikan untuk anak saya yang pertama masuk sekolah SD. Nilai pencairanya sekitar Rp 10 juta. Investasi tersebut baru saya lakukan 4 tahun lalu dengan nilai sebesar Rp 200 ribu setiap bulannya atau sekitar Rp 2,4 juta setiap tahun.

Saya ceritakan hal tersebut kepada klien saya. Begitu kaget dan shock-nya klien saya melihat jauhnya hasil yang dia peroleh dibandingkan dana investasi pendidikan anak saya.

Secara matematis jika dihitung nilai Rp 3,6 juta dikali sekitar kurang lebih sepuluh tahun yang lalu dana yang dibayarkan ke perusahaan asuransi total sebesar Rp 36 juta. Lalu kenapa ayah klien saya hanya memperoleh dana pencairan sekitar Rp 9 juta?

Dibandingkan dana investasi pendidikan anak saya yang nilainya Rp 2,4 juta dikali sekitar 4 tahun lalu, dengan total setoran Rp 9,6 juta bisa mencairkan dana investasi Rp 10 juta.

Lalu ke mana larinya kekurangan dana Rp 36 juta dikurangi Rp 9 juta sebesar Rp 27 juta. Dan dari mana kelebihan dana investasi dengan setoran Rp 9,6 juta mendapatkan Rp 10 juta yaitu sekitar Rp 400.000.

Kenapa demikian, karena banyak beranggapan bahwa asuransi pendidikan adalah tabungan atau investasi pendidikan sehingga ekspektasi yang diharapkan saat pencairan nilai yang diperoleh otomatis lebih besar atau paling tidak sama dengan nilai yang disetorkan.

Pemahaman bahwa asuransi sama dengan tabungan atau investasi pendidikan tidaklah tepat. Asuransi adalah proteksi dan bukan investasi. Fungsi dan tujuan utama produk asuransi itu bukanlah sebagai sarana investasi, melainkan sebagai proteksi atau perlindungan jika ada risiko yang terjadi di kemudian hari.

Apabila di dalam produk asuransi terdapat unsur investasi, itu hanya sebagai nilai tambah dan bukan menjadi produk utama. Ibarat Anda membeli handphone yang fungsinya sebagai komunikasi, saat ini hampir semua produk handphone terdapat tambahan fasilitas kamera.

Secanggih apa pun tipe handphone yang ada, tetapi dalam hal fotografi, para fotografer andal tetap menggunakan kamera dan tidak menggunakan handphone sebagai alat utama dalam bekerja.

Apa sih yang diproteksi? Yang diproteksi dalam asuransi pendidikan yaitu tulang punggung keluarga terutama ayah atau ibu yang bekerja, apabila di kemudian hari sudah tidak ada atau terlebih dahulu dipangil oleh Sang Pencipta dan dibutuhkan untuk membiayai dana pendidikan.

Karena itu dalam asuransi pendidikan terdapat UP yaitu Uang Pertanggungan apabila Tertanggung yaitu Orang yang atas dirinya diadakan pertanggungan, meninggal dunia. Hal ini mengapa pada produk asuransai harus tercantum nama tertanggung dan ahli waris.

Nama tertanggung diisi oleh pemberi nafkah yaitu orang tua. Tetapi tidak sedikit juga lho yang salah dalam memasukkan nama tertanggung yaitu denga nama anak. Bagi Anda yang memiliki polis asuransi pendidikan silahkan Anda cek kembali apakah sudah tepat menulis nama Tertanggung.

Jika masih salah sebaiknya Anda segera merevisi dengan nama yang tepat yaitu nama Anda sebagai tulang punggung keluarga. Jika tidak segera diperbaiki, risiko yang diakibatkan adalah tidak cairnya uang pertanggungan jika pencari nafkah keluarga meninggal dunia.

Sehingga produk asuransi yang Anda miliki tidak tepat guna, dan premi yang Anda bayarkan sia-sia begitu saja.

Harap diingat bahwa produk asuransi ini adalah produk yang cukup rumit untuk dimengerti oleh orang awam. Sementara banyak agen yang juga tidak menjelaskan secara detil dan rinci di saat yang bersamaan calon nasabah juga tidak mengerti apa-apa, bahkan sering dijumpai nasabah tidak mengerti isi dari polis asuransi yang mereka beli.

Untuk itu anda bisa ikutan belajar tentang asuransi dan cara mengelola keuangan anda di kelas dan workshop yang dilaksanakan oleh tim IARFC Indonesia http://ow.ly/NbPy30gC3Dy atau tim AAM & Associates http://ow.ly/pxId30gC3BB.

Di Jakarta dibuka workshop sehari tentang bagaimana cara Mengelola Gaji dan Mengatur Uang bulanan info http://bit.ly/PM0618 dan Belajar dan Teknik Menjadi Kaya Raya dan juga workshop sehari tentang Reksa Dana, info http://bit.ly/WRD0618.

Selain itu karena banyak orang merasa salah beli asuransi maka kita adakan juga workshop tentang asuransi info http://bit.ly/ASJI0718 dan akan ada workshop cara berkomunikasi dan menjual dengan baik, info http://bit.ly/NLP0718.

Untuk ilmu yang lebih lengkap lagi, anda bisa belajar tentang perencanaan keuangan komplit, bahkan bisa jadi konsultannya dengan sertifikat Internasional bisa ikutan workshop Basic Financial Planning, kelas baru dibulan Agustus dan workshop Intermediate Financial Planning di Pertengahan Juli. Cek infonya bisa dilihat di www.IARFCIndonesia.com

Anda bisa diskusi tanya jawab dengan cara bergabung di akun telegram group kami "Seputar Keuangan" atau klik t.me/seputarkeuangan.

Dalam menjalankan bisnisnya perusahaan asuransi mengenakan biaya kepada para pemegang polis termasuk komisi agen penjual yang nilainya tidak sedikit.

Nah, apa saja jenis biaya-biaya tersebut dan bagus mana dengan Investasi Pendidkkan akan dibahas di artikel berikutnya. Tunggu tanggal mainnya. (ang/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed