Kebiasaan Buruk di Tahun Ajaran Baru yang Selalu Berulang

Eko Endarto - detikFinance
Sabtu, 07 Jul 2018 08:16 WIB
Foto: Adhar Muttaqin
Jakarta - Bulan Juni dan Juli selalu identik dengan tahun ajaran baru, dan tahun ajaran baru identik dengan uang keluar. Tahun ini pengeluaran ini menjadi lebih berat karena berdekatan dengan biaya hari besar yaitu Lebaran.

Banyak orang mengatakan bahwa biaya pendidikan adalah biaya yang memberatkan karena harus dikeluarkan dalam jumlah besar. Biaya masuk sekolah dan kebutuhan tahun ajaran baru yang besar dianggap menjadi penyebabnya. Banyak cara dilakukan orang tua untuk mengantisipasinya.

Ada yang benar, ada pula yang dianggap tidak benar. Karena sebenarnya biaya pendidikan itu bisa diantisipasi dan tidak akan menjadi masalah bila setiap orang tua merencanakan dan mengatur keuangannya dengan tepat.

Beberapa cara penanganan salah yang dilakukan orang tua untuk mengatasi biaya pendidikan adalah:

1. Utang Konsumtif
Ini adalah cara termudah dan paling sering dilakukan. Orang tua mengambil pinjaman untuk membiayai biaya sekolah anaknya. Namun masalahnya pinjaman yang diambil adalah pinjaman konsumtif yang berbunga tinggi dan jangka waktu pendek.

Akibatnya beban pinjaman ini akan berakibat panjang di cashflow keluarga tiap bulannya. Pinjaman koperasi, kartu kredit dan KTA adalah contoh sarana yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan ini.

2. Gadai
Utang nggak diambil maka gadai adalah cara lainnya yang digunakan. Asset yang dirasa berharga, daripada tidak digunakan maka lebih baik digadaikan saja sebagai jaminan untuk mendapatkan dana.

Untuk sekali atau dua kali mungkin ngga masalah.Tapi bila tiap tahun ajaran baru hal itu yang dilakukan, maka akan menjadi masalah juga, karena bunga yang kita bayarkan tiap bulan sebenarnya adalah opportunity investasi yang hilang karena harus dibayarkan ke pihak yang memberi utang.


3. Jual Aset
Daripada gadai, mending jual. Karena dana yang didapatkan juga lebih besar dari gadai dan tidak kena bunga. Asset berharga yang dimiliki berlebih atau tidak digunakan adalah salah satu alasan kenapa menjual asset digunakan sebagai alternatif.

Kendaraan yang lebih dari satu, perhiasan yang dirasa sudah lewat masa adalah beberapa contoh di antaranya. Sebenarnya menjual aset tidaklah hal yang tabu untuk memenuhi kebutuhan biaya pendidikan.

Tapi dengan syarat bahwa aset tadi memang saat dibeli digunakan sebagai sarana untuk hal tersebut. Tapi bila penjualan dilakukan karena tidak ada perencanaan, itu yang menjadi masalah.

Menjadikan pengeluaran biaya pendidikan sebagai pengeluaran yang memberatkan sebenarnya adalah karena kesalahan orang tua sendiri. Kebutuhan biaya pendidikan sudah bisa diantisipasi sejak seorang anak dilahirkan.

Jadi perencanaan dalam hal ini adalah sesuatu keharusan agar biaya pendidikan tidak menjadi masalah tiap tahunnya.

Disclaimer: artikel ini merupakan kiriman dari mitra yang bekerja sama dengan detikcom. Redaksi detikcom tidak bertanggung jawab atas isi artikel yang dikirim oleh mitra. Tanggung jawab sepenuhnya ada di penulis artikel. (ang/ang)