Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 29 Okt 2018 07:12 WIB

Begini Caranya Supaya Karyawan Melek Keuangan (1)

Stanley Christian - Aidil Akbar Madjid & Partners - detikFinance
Foto: Rachman Haryanto Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Literasi keuangan adalah tingkat pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai lembaga keuangan formal, produk, dan jasa keuangan. Menurut hasil survei Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mei tahun 2018, tingkat literasi keuangan di Indonesia sebesar 31%.

Meningkat dari tahun sebelumnya di angka 29,7%. Namun, Angka ini terbilang kecil, maka tak heran masih banyak masyarakat yang belum melek produk keuangan termasuk karyawan di kota besar.

Nahh maka dari itu, kali ini kita akan coba membahas literasi keuangan yang seperti apa yang tepat untuk para karyawan agar dapat mengelola keuangan dengan lebih baik serta dapat mencapai tujuan keuangan yang lebih maksimal.

Seperti sudah disebut tadi, bahwa tingkat literasi keuangan kita masih terbilang kecil. Kita bisa melihat berbagai contoh sederhana di sekitar kita, mulai dari minimnya produk perbankan yang diketahui, produk keuangan, produk investasi hingga investasi bodong yang masih marak sekali terjadi.

Hal ini berhubungan kuat dengan kesejahteraan karyawan dalam sebuah perusahaan. Tidak ada karyawan yang dapat bekerja dengan maksimal bila memiliki permasalahan keuangan pribadi atau keluarga.

Karena karyawan adalah tubuh yang menggerakkan setiap perusahaan. Jika ingin bisnis/ perusahaan berjalan lancar maka mulailah dengan menyejahterakan karyawan secara finansial dengan memulai literasi keuangan.

Maka kita akan coba bahas literasi seperti apa yang tepat untuk para karyawan. Banyak hal yang perlu kita ketahui mengenai literasi keuangan dan kita akan coba bahas satu per satu. Mulai dari cashflow, utang, hingga produk keuangan dan juga mempersiapkan pensiun dan masih banyak lagi.

Hal paling sederhana adalah kita mulai dari cashflow terlebih dahulu. Cashflow kita bicara uang masuk dan uang keluar. Di sinilah jantung keuangan kita.

Mungkin terkesan sederhana membicarakan cashflow karena tentunya setiap orang pasti mengelola cashflow-nya setiap bulan. Tetapi pada kenyataannya tidak semua orang mengetahui cara mengelola cashflow yang benar, terutama para karyawan yang menerima gaji bulanan.

Buktinya jokes dan meme berseliweran mengenai keuangan setiap bulannya. Mulai dari istilah 'kanker' alias kantong kering, gaji 10 koma alias gajian tanggal 1, tapi tanggal 10 sudah koma, dan tentunya masih banyak lagi jokes mengenai hal tersebut.

Tentu hal itu tak lepas dari management cashflow yang baik. Tanpa pengeloaan keuangan yang baik, uang seberapa besarpun yang masuk, akan keluar begitu saja tanpa arah yang jelas.

Dan tentu pernah anda rasakan ketika bergumam'lho kok uang saya tinggal segini, perasaan tadi ada sekian, ke mana ya'. Hayooo ngaku siapa yang pernah mengalami hal ini?

Inilah yang bisa kita sebut 'kebocoran' dalam keuangan anda dan masih mending bila anda mengetahui kemana bocornya uang anda, yang menjadi miris adalah kita tidak tahu ke mana uang tersebut.

Ditambah lagi dengan gaya hidup saat ini yang cenderung konsumtif sehingga tingkat konsumerisme begitu tinggi dan pada akhirnya mempengaruhi banyak orang untuk menghabiskan uang yang dimilikinya. Semua itu berakhir pada gaji yang diterima setiap bulan biasanya hanya 'numpang lewat' di rekening.

Maka dengan literasi keuangan yang tepat dapat menjembatani permasalahan ini bagi para karyawan. Semakin sering seseorang terpapar dengan pengetahuan yang baik mengenai cara mengelola keuangan, dengan sendirinya dia akan terpengaruh dan mengikuti cara-cara yang benar.

Jika setiap karyawan dapat mengelola cashflow bulanannya dengan baik, mereka sudah satu langkah lebih maju untuk mencapai kenyamanan keuangan dalam jangka panjang.

Kalau tadi sudah kita singgung mengenai cashflow, kali ini tentang utang. Ini juga menarik karena Fenomena 'gaji numpang lewat' yang disebutkan sebelumnya dapat terjadi selain karena untuk membeli barang juga untuk membayar utang.

Misalnya seorang karyawan menerima gaji Rp 10 juta per bulan. Nominal gaji yang diterima memang cukup besar, tetapi 70% dari gaji tersebut digunakan untuk membayar utang, baik cicilan elektronik maupun tagihan kartu kredit bulan sebelumnya.

Akhirnya uang yang tersisa di tangan hanya Rp 3 juta, belum lagi harus membayar sewa kost dan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Siklus ini akan terus berputar menjadi lingkaran maut.

Jika tidak diakhiri, orang yang berada di dalamnya lama-kelamaan akan bangkrut. Menyeramkan bukan?

Dengan adanya literasi keuangan yang tepat bagi para karyawan tentu untuk meningkatkan kesadaran seseorang mengenai pentingnya mengelola keuangan dengan baik dan bijaksana. Terlebih bila kita bicara utang yang mayoritas diberikan oleh pihak lembaga keuangan seperti bank.

Ada edukasi yang tepat mengenai besaran bunga, perhitungan bunga, berapa besar denda yang dikenakan bila terlambat, berapa besar potongan administrasinya, hingga kondisi terburuk bila terjadi kredit macet, selain kemudahan pengajuan dan proses yang kerap kali lebih diceritakan dibandingkan pertanyaan seperti tadi.

Belum lagi kemudahan saat ini yang ditawarkan dalam aplikasi peminjaman via online. Bermodalkan KTP dan dalam hitungan jam proses pinjaman anda disetujui. Berapa banyak masyarakat yang sangat mudah untuk meminjam namun masih minim informasi. Apakah anda termasuk di dalamnya?

Oleh sebab itu secara alternatif orang kemudian mencari ilmunya sendiri dengan belajar ke mana-mana, misalnya melalui baca buku, artikel, situs dan media sosial secara gratisan. Akan tetapi kelemahan dari informasi disini adalah diberikan secara rata (general) dan komunikasi satu arah sehingga sering kali tidak pas atau tidak sesuai dengan kebutuhan kita.


Itulah sebabnya sebaiknya dianjurkan untuk anda mengikuti workshop-workshop yang dilaksanakan oleh tim IARFC Indonesia atau tim AAM & Associates.

Di Jakarta dibuka workshop sehari tentang bagaimana cara Mengelola Gaji dan Mengatur Uang bulanan dan Belajar dan Teknik Menjadi Kaya Raya dan juga workshop sehari tentang Reksadana. Ada juga workshop khusus tentang Asuransi membahas Keuntungan dan Kerugian dari Unitlink yang sudah anda beli.

Karena banyak permintaan, dibuka lagi workshop Komunikasi yang memukau lawan bicara anda (menghipnotis), cocok untuk anda orang sales & marketing, untuk komunikasi ke pasangan, anak, boss, anak buah, ke siapapun, info.

Untuk ilmu yang lebih lengkap lagi, anda bisa belajar tentang perencanaan keuangan komplit, bahkan bisa jadi konsultannya dengan sertifikat Internasional bisa ikutan workshop Basic Financial Planning dan workshop Intermediate dan Advance Financial Planning di Pertengahan Info lainnya bisa dilihat di www.IARFCIndonesia.com (jangan lupa tanyakan DISKON paket)

Anda bisa diskusi tanya jawab dengan cara bergabung di akun telegram group kami "Seputar Keuangan" atau klik di sini.


Disclaimer: artikel ini merupakan kiriman dari mitra yang bekerja sama dengan detikcom. Redaksi detikcom tidak bertanggung jawab atas isi artikel yang dikirim oleh mitra. Tanggung jawab sepenuhnya ada di penulis artikel. (ang/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed