Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 01 Feb 2019 07:30 WIB

'Kutukan' Akhir Bulan Duit Cekak? Ini Penyebabnya (1)

Ruly Rahadianto - Aidil Akbar Madjid & Partners - detikFinance
Foto: Rachman Haryanto Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Kalender sudah menunjukkan tanggal dua puluhan, email tagihan mulai berdatangan, aneka biaya langganan dan cicilan, sampai uang sekolah anak, semua minta bayaran. Cek rekening isinya cuma ratus ribuan.

Keringat dingin mulai bercucuran, degup jantung berkejaran, membayangkan alangkah sulitnya kehidupan. Mendadak telepon berdering, menambah tegang dan pusing. Ternyata lagi-lagi pemberitahuan tagihan.

Tuhan, apa yang harus kulakukan? Ngutang sama teman? Yang kemarin saja belum selesai pelunasan. Tak masuk akal, padahal pendapatan sudah naik berkali-kali. Tapi kenapa selalu begini, terulang kembali. Sungguh mematikan, inikah kutukan tagihan di akhir bulan?

Pernah merasa seperti ini? Pendapatan naik tapi tagihan kok rasanya malah semakin mencekik? Terus, kemana larinya kenaikan pendapatan itu?

Tenang, mungkin anda tidak sendiri. Banyak orang yang merasakan hal yang sama dengan yang anda rasakan. Bahkan mungkin termasuk saya di masa lalu. Kita dan kebanyakan orang lainnya harus berakrobat untuk bertahan dari tanggal pemasukan ke tanggal pemasukan berikutnya.

Mungkin buat yang belum pernah mengalami hal ini akan berpendapat, ah ini kan karena penghasilannya kecil. Tapi anehnya situasi ini bukan hanya buat yang pendapatannya kecil kok.

Mereka yang pendapatan bulanannya di angka belasan, puluhan, bahkan hingga ratusan juta pun bisa terjebak dalam situasi ini. Ah lumayan, banyak teman. Hehehe...

Kalau sudah terlanjur, solusi pendek tanpa repot yang diambil biasanya adalah ngutang saja, atau bahasa kerennya kredit. Semua bisa memberi utang.

Bahkan kalau teman kanan-kiri sudah habis duit dan ogah ngutangin lagi kita tetap bisa santai jaya. Karena selalu ada banyak jalan menuju Senayan kawan.

Tinggal pilih mulai dari kasbon, gesek kartu kredit, utang koperasi, KTA bank, SMS rentenir, gadai ke mafia, fintech lintah darat, dan lain-lain. Apalagi jaman sekarang enggak perlu pakai ribet-ribet. Tinggal ambil hape, unduh aplikasi, jepret foto ktp sama npwp, unggah, terus cair deh.

Sesaat enak dan seketika lega. Tapi sialnya di sinilah awal mula penderitaan tak berujung. Karena bulan depan kutukan tagihan akhir bulan akan datang lagi. Tapi serunya sekarang mereka ngajak teman-temannya, yaitu tagihan-tagihan utang baru. Hore!!

Tunggu sebentar, bukan berarti saya anti utang lho ya. Tidak bisa dipungkiri kadang-kadang dalam kehidupan ada saja situasi yang membuat kita tidak bisa menghindari ngutang. Tapi apakah enak memilih utang sebagai jalur utama penyelesaian segala masalah keuangan.

Sepertinya dikejar utang tidak akan bisa seenak bobok-bobok siang. Karena satu hal yang pasti, utang itu tagihannya pasti ada, tapi apa yang digunakan untuk bayar belum tentu ada.

Tapi sebenarnya, kalau kita pikirkan baik-baik utang itu tidak buruk lho, yang buruk itu yang ngutang tidak bayar-bayar. Apalagi sudah utang pas ditagih tiba-tiba amnesia, lenyap seperti ninja, atau malah jadi lebih galak dari yang menagih.

Untung kita tidak seperti itu. Kita termasuk anak rajin dan soleh yang selalu bayar utang tepat waktu walau kadang cuma bisa bayar batas minimal saja.

Selain ngutang, solusi lain yang mungkin pernah kita lakukan adalah nambah penghasilan. Entah lewat jalur buka bisnis, nambah sampingan, atau cari sabetan. Sambil berdoa jangan sampai tergoda bisikan setan dan tetap di jalan halal. Namanya usaha kadang ada yang berhasil sampai dapat juta-jutaan. Kadang ada pula yang bangkrut habis pula juta-jutaan.

Yang berhasil akan senang bukan kepalang karena sekarang penghasilan bertambah banyak jauh di atas pengeluaran. Tapi seringkali kebahagiaan itu tidak berlangsung selama dan sepanjang seri sinetron tukang bubur naik haji. Cepat atau lambat tapi pasti, volume pengeluaran-pengeluaran lagi-lagi mendekati kapasitas penghasilan.

Tentu saja anda yang berjiwa pantang menyerah tidak akan diam saja. Anda akan kembali lagi berjuang meningkatkan penghasilan. Setelah berhasil anda tentu kembali senang lagi. Tapi biasanya tidak lama kemudian pengeluaran-pengeluaran baru mulai mengejar lagi. Terus berlangsung kejar mengejar hingga kemudian salah satu menyerah dan kalah. Persis adegan puncak film Bollywood.


Semakin seru kan bahasanya? Pembahasan seperti ini bisa anda temui dan dapatkan di workshop yang dilaksanakan oleh tim IARFC Indonesia atau tim AAM & Associates.

Di Jakarta dibuka workshop sehari tentang bagaimana cara Mengelola Gaji dan Mengatur Uang bulanan dan Belajar dan Teknik Menjadi Kaya Raya dan juga workshop sehari tentang Reksadana. Ada juga workshop khusus tentang Asuransi membahas Keuntungan dan Kerugian dari Unitlink yang sudah anda beli.

Karena banyak permintaan, dibuka lagi workshop Komunikasi yang memukau lawan bicara anda (menghipnotis), cocok untuk anda orang sales & marketing, untuk komunikasi ke pasangan, anak, boss, anak buah, ke siapapun, info.

Untuk ilmu yang lebih lengkap lagi, anda bisa belajar tentang perencanaan keuangan komplit, bahkan bisa jadi konsultannya dengan sertifikat Internasional bisa ikutan workshop Basic Financial Planning dan workshop Intermediate dan Advance Financial Planning di Pertengahan Info lainnya bisa dilihat di www.IARFCIndonesia.com (jangan lupa tanyakan DISKON paket)

Anda bisa diskusi tanya jawab dengan cara bergabung di akun telegram group kami "Seputar Keuangan" atau klik di sini.

Dalam artikel sambungan berikut akan dibahas dua faktor utama dalam keuangan. Apakah itu? Simak pembahasan di artikel berikutnya.


Disclaimer: artikel ini merupakan kiriman dari mitra yang bekerja sama dengan detikcom. Redaksi detikcom tidak bertanggung jawab atas isi artikel yang dikirim oleh mitra. Tanggung jawab sepenuhnya ada di penulis artikel. (ang/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed