Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 04 Feb 2019 07:23 WIB

Mengenal Literasi Keuangan (1)

Prasaja Pricillia Sujatmiko - Aidil Akbar Madjid & Partners - detikFinance
Foto: Rachman Haryanto Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Mengapa seseorang yang pandai sekali berhitung dan mengerjakan soal matematika maupun teka-teki, bisa jadi tidak pandai mengatur keuangan pribadinya?

Mengapa seseorang yang paham mengenai produk-produk keuangan bisa salah mengambil keputusan dan menyebabkan dirinya terjebak dalam masalah keuangan?

Pelajaran matematika sejak dulu sampai sekarang masih menjadi mata pelajaran wajib di sekolah. Mulai dari hitung tambah kurang bagi kali, sampai kalkulus, semua dijajal dan dilahap oleh anak-anak di masa sekolah.

Masih saya ingat, saya kagum sekali melihat teman yang nilai Matematikanya bisa 9 bahkan 10. WOW, menghitungnya pakai apa ya, otaknya terbuat dari apa, makan apa sih?

Tetapi ternyata, banyak juga orang yang, walaupun mendapatkan nilai Matematika sangat bagus, mengalami kesulitan dalam mengatur keuangannya. Mulai dari tidak memiliki tabungan sama sekali, salah memilih produk asuransi, salah berinvestasi, salah memilih pekerjaan, bahkan menumpuk utang dan bangkrut. Kenapa bisa ya?

Literasi banyak diartikan sebagai kemampuan seseorang mengolah informasi saat membaca dan menulis. Literacy Advance menyebutkan literasi sebagai kemampuan membaca, menulis, berbicara dan mendengar, dan menggunakan angka atau teknologi, pada level yang memampukan orang mengekspresikan dan memahami ide dan pendapat, untuk membuat keputusan atau menyelesaikan masalah, untuk mencapai tujuan, dan berpartisipasi penuh dalam komunitas mereka dan masyarakat luas. Maka, literasi tidak terbatas hanya pada kemampuan membaca.

Enam komponen literasi dasar, mengutip dari Jendela Pendidikan dan Kebudayaan, yaitu kemampuan baca-tulis-berhitung, sains, teknologi informasi dan komunikasi (TIK), keuangan, dan kewarganegaraan.


Untuk memahami literasi keuangan lebih jauh, ijinkan saya bercerita.

Kira-kira tahun 2010, salah seorang kenalan saya yang lulus Universitas dengan nilai cum laude pada saat mencari pekerjaan bercerita kepada saya bahwa dia tidak tahu ingin pekerjaan seperti apa.

Pada saat wawancara kerja, dia tidak dapat menjawab pertanyaan seperti "Apa kelebihan dan kekurangan Anda, mengapa Anda menginginkan pekerjaan ini?"

Akhirnya, dia menerima pekerjaan apa saja asal diterima bekerja lalu merasa tidak cocok dengan pekerjaan tersebut, namun tidak tahu apa dan bagaimana caranya memperoleh pekerjaan yang diinginkan.

Lantas, apa hubungannya cerita ini dengan literasi keuangan, pasti itu yang sedang Anda pikirkan.

Dalam artikel berikutnya kita akan bahas definisi menurut OJK dan bagaimana penjabarannya versi pengertian saya tentang literasi keuangan ini.


Disclaimer: artikel ini merupakan kiriman dari mitra yang bekerja sama dengan detikcom. Redaksi detikcom tidak bertanggung jawab atas isi artikel yang dikirim oleh mitra. Tanggung jawab sepenuhnya ada di penulis artikel. (ang/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed