Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 15 Apr 2019 07:29 WIB

Tips Membeli Properti: Rumah atau Apartemen? (2)

Aidil Akbar Madjid - Aidil Akbar Madjid & Partners - detikFinance
Foto: Tim Infografis: Luthfy Syahban Foto: Tim Infografis: Luthfy Syahban
Jakarta - Kalau di artikel sebelumnya dibahas tips pertama membeli properti adalah menentukan tujuan dan jenis properti yang ingin anda beli apakah rumah atau apartemen. Di artikel itu juga sudah dibahas kelebihan dan kelemahan dari membeli apartemen.

Nah dalam artikel kali ini kita akan bahas kelebihan dan kelemahan membeli properti rumah tinggal tapak.

Kelebihan Rumah Tapak
Mayoritas masyarakat di Indonesia masih terbiasa tinggal di rumah tapak dibandingkan rumah susun (apartemen). Meskipun masing-masing jenis properti punya kelebihan dan kelemahan masing-masing. Adapun kelebihan dari tinggal dirumah tapak adalah sebagai berikut.

Pertama yang terlihat nyata adalah luasan tanah dan rumah. Meskipun anda tinggal di rumah tapak dengan tipe terkecil (biasanya tipe 36), karena luas tanah lebih besar dari itu maka anda akan memiliki ruangan (space) yang lebih luas lagi untuk beraktivitas.

Selain luas rumah dan tanah, kemudahan anda bergerak dari satu ruangan ke ruangan lain bahkan keluar rumah membuat tinggal di rumah jauh enak dibandingkan di apartemen. Apalagi bila anda memiliki anak kecil yang sedang suka berjalan, mereka membutuhkan ruang yang luas untuk eksplorasi.

Selain itu rumah tapak juga memerlukan biaya pemeliharaan luar rumah yang relatif lebih murah. Iuran sampah dan iuran keamanan jauh akan lebih murah dibandingkan dengan di apartemen, sementara lampu luar rumah (penerangan jalan) sudah disediakan oleh pemerintah.

Kelebihan lain dari rumah tapak adalah Sertifikat Hak Milik yang bisa anda miliki dibandingkan Sertifkat Rumah Susun yang biasanya berdiri diatas Hak Guna Bangunan yang mempunyai periode 20 tahun untuk kemudian diperpanjang.

Kelemahan Rumah Tapak
Pengalaman saya tinggal di rumah tapak, biasanya rumah tapak lebih rawan dengan pencurian. Karena posisinya yang berdiri sendiri menyebabkan rumah anda bisa dipantau oleh siapa saja dan kapan saja.

Anda tidak bisa mengandalkan keamanan rumah anda kepada satpam atau sekuriti. Bagi anda yang sering bepergian keluar kota atau luar negeri dan meninggalkan rumah kosong, hal ini tentu sangat memberatkan.

Anda terpaksa harus 'menitip' rumah anda ke tetangga (itu juga kalau tetangga anda baik dan mau membantu). Selain itu bila rumah ditinggal kosong berarti harus ada orang yang menyalakan atau mematikan lampu setiap hari.

Sebab apabila lampu mati terus atau hidup terus maka akan rawan untuk didatangi pencuri, karena pencuri sudah mengerti pola-pola rumah yang kosong.

Selain itu kelemahan lain dari rumah tapak adalah apabila anda membeli didalam atau dekat ke tenah kota, maka harga tanah dan rumahnya relatif sudah mahal. Seperti contoh di Jakarta, bila anda ingin mencari rumah di daerah perumahan atau kompleks anda akan kesulitan untuk menemukan rumah dengan harga dibawah Rp 1 miliar, kecuali di daerah tertentu (bukan komplek) atau dengan jalan yang kecil (dalam gang).

Akibatnya pilihannya adalah anda harus tinggal di pinggiran kota untuk mendapatkan rumah tapak dengan harga terjangkau.

Ketika anda dengan terpaksa harus beli rumah di pinggir atau luar kota, maka konsekwensinya adalah biaya transportasi yang relatif cukup tinggi yang harus anda tanggung. Bila anda menggunakan kendaraan umum maka anda bisa jadi harus ganti beberapa kendaraan.

Apabila anda menggunakan kendaraan pribadi (mobil) maka anda harus membayar biaya bensin, tol dan parkir yang nominalnya cukup lumayan. Selain itu waktu anda akan habis di jalan untuk mencapai tempat bekerja anda.

Nah setelah anda putuskan untuk membeli apartemen atau rumah sesuai dengan kemampuan, kebutuhan dan jarak ke tempat tujuan anda, maka tips berikutnya dalam membeli properti adalah

Berapa Lama Anda Ingin Menempati properti Ini
Investor kawakan seperti Warren Buffett mengatakan bahwa, ketika anda membeli rumah (untuk tujuan apapun, ditinggali atau disewakan) pastikan bahwa anda mau tinggal di properti anda selamanya. Akan tetapi di zaman sekarang, apalagi di Indonesia kondisinya belum tentu sama.

Menentukan apakah anda akan tinggal di properti tersebut selamanya atau akan pindah lagi membantu anda menentukan jenis properti yang akan anda ambil.

Sebagai contoh, anda bisa saja saat ini masih sendiri (single) dan mengambil apartemen di tengah kota daripada bayar kos atau kontrakan. Nah, ketika anda kemudian menikah dan punya anak dan dirasa memerlukan tempat tinggal yang lebih luas, maka anda bisa pindah ke rumah yang lebih besar di pinggiran kota, sementara apartemen anda bisa anda jual atau bisa anda sewakan.


Mencari Pembiayaan
Mencari pembiayaan dan menghitung biaya yang dibutuhkan untuk membeli rumah anda dengan baik dan benar. Persiapan ini bisa juga anda dapatkan dari workshop yang dilaksanakan oleh tim IARFC Indonesia atau tim AAM & Associates.

Di Jakarta dibuka workshop sehari tentang bagaimana cara Mengelola Gaji dan Mengatur Uang bulanan dan Belajar dan Teknik Menjadi Kaya Raya dan juga workshop sehari tentang Reksadana.

Karena banyak permintaan, dibuka lagi workshop Komunikasi yang memukau lawan bicara anda (menghipnotis), cocok untuk anda orang sales & marketing, untuk komunikasi ke pasangan, anak, boss, anak buah, ke siapapun, info.

Untuk ilmu yang lebih lengkap lagi, anda bisa belajar tentang perencanaan keuangan komplit, bahkan bisa jadi konsultannya dengan sertifikat Internasional bisa ikutan workshop Basic Financial Planning dan workshop Intermediate dan Advance Financial Planning di Pertengahan Info lainnya bisa dilihat di www.IARFCIndonesia.com (jangan lupa tanyakan DISKON paket).

Mumpung bulannya pesta demokrasi, tanyakan juga adanya DISKON PESTA DEMOKRASI hanya di bulan April ini saja. Anda bisa diskusi tanya jawab dengan cara bergabung di akun telegram group kami "Seputar Keuangan" atau klik di sini.

Penjelasan sederhana tentang persiapan pembiayaan untuk membeli properti anda akan kita bahas di artikel berikutya. Tunggu ya.


Disclaimer: artikel ini merupakan kiriman dari mitra yang bekerja sama dengan detikcom. Redaksi detikcom tidak bertanggung jawab atas isi artikel yang dikirim oleh mitra. Tanggung jawab sepenuhnya ada di penulis artikel. (ang/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com