Follow detikFinance Follow Linkedin
Minggu, 05 Mei 2019 14:28 WIB

Hati-Hati! Bulan Ramadhan Bisa Bikin Kamu Tambah Boros

Trio Hamdani - detikFinance
Foto: Muhammad Ridho Foto: Muhammad Ridho
Jakarta - Sebentar lagi kita bakal menyambut bulan suci ramadhan. Mungkin yang terbayang kita bisa berhemat karena menjalankan puasa seharian. Namun bila tak hati-hati, kita justru bisa lebih boros di bulan ramadhan.

Perencana Keuangan Financia Consulting Eko Endarto menjelaskan, kita bisa lebih konsumtif di bulan puasa karena sejumlah faktor. Faktor pertama adalah menu bukaan yang harus terkesan 'wah'.

"Karena mereka merasa pengeluaran yang ditahan di siang hari harus dikeluarkan ketika mereka berbuka sore hari, sehingga sore hari itu bukan sebagai ajang untuk berbuka tapi seperti ajang balas dendam gitu, menahan siang hari harus dipuaskan di sore hari," katanya saat dihubungi detikFinance, Jakarta, Minggu (5/5/2019).


Hal di atas, lanjut dia disebabkan dua hal. Yang pertama adalah kita cenderung membeli makanan saat berbuka dalam jumlah lebih besar. Misalnya biasanya hanya makan pokok saja, kali ini harus ada tambahan-tambahan menu lainnya.

"Kedua, kualitasnya pun naik, yang biasanya biasa-biasa saja harus naik ke tingkat lebih tinggi. Misalnya biasanya makan ayam, ayamnya biasa sekarang harus dipanggang atau apapun lah harus lebih spesial lah," paparnya.


Belum lagi banyaknya ajakan buka bersama (bukber) selama ramadhan, mulai dari rekan semasa SD hingga kuliah. Itu tentu saja bakal membuat kita lebih boros.

"Pastinya, karena kan kalau setiap minggu bisa boros juga, itu pertama," ujarnya.

Kedua, lanjut dia harga-harga makanan biasanya naik di saat bulan puasa karena faktor tertentu, misalnya restoran ingin kejar target buat memberi THR ke pegawainya. Jadi jika bukber di luar bakal membuat pengeluaran melonjak.

"Mereka (jasa kuliner) menargetkan (pendapatan) targetnya lebih dua kali lipat misalnya. Nah mau nggak mau kan harga dinaikkan," jelasnya.

Terakhir adalah bertebarannya diskon, baik di mal maupun di toko-toko online. Itu bisa medorong kita menjadi lebih konsumtif.

"Kenapa? karena kan memang itu pemanis-pemanis supaya orang mau berbelanja kan," tambahnya.


(zlf/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com