Follow detikFinance Follow Linkedin
Sabtu, 06 Jul 2019 19:12 WIB

Jangan Buru-buru Investasi, Catat Ini Biar Nggak Kena Tipu

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Ilustrasi/Foto: iStock Ilustrasi/Foto: iStock
Jakarta - Bagi investor pemula yang ingin berinvestasi, harus memperhatikan kemampuan, profil risiko hingga prinsip kehati-hatian. Hal ini agar investor tidak tertipu dengan investasi-investasi bodong yang saat ini masih menjamur di Indonesia.

Perencana keuangan dari Mitra Rencana Edukasi (MRE) Andy Nugroho menjelaskan dalam berinvestasi, investor pemula juga harus memperhatikan aturan main dan cara kerja produk investasi tersebut.

"Pelajari dan pahami dengan cermat berbagai aturan dan cara kerja, sehingga bisa mendatangkan keuntungan bagi kita," kata Andy saat dihubungi detikFinance, Sabtu (6/7/2019).


Dia mengungkapkan, hal ini penting agar investor tidak merasa tertipu sehingga kapok untuk berinvestasi karena rugi. Padahal sebenarnya kerugian itu datangnya dari ketidakpahaman diri sendiri terkait detail produk yang digunakan investasi.

Andy mengungkapkan, sebagai investor pemula akan lebih baik bila produk yang dipilih adalah yang memang sudah dikenal luas dan umum di masyarakat.

Misalnya jika produk keuangan harus yang sudah terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) atau regulator lainnya. Untuk produk keuangan bisa membuka laman resmi OJK atau menelepon ke call center terkait calon tempat berinvestasi, hal ini penting dilakukan agar investor mengetahui seluk beluk perusahaan tersebut.


Jika memang perusahaan atau lembaga dirasa mengkhawatirkan, maka harus memperhatikan kelogisannya misalnya, imbal hasil yang wajar, yakni tidak menjanjikan keuntungan besar dalam waktu yang cepat. Seperti pada kasus investasi bodong, yang menjanjikan keuntungan besar dalam waktu singkat. Misalnya menyimpan uang di koperasi A, keuntungannya 30% dalam waktu dua minggu, itu adalah hal yang tidak logis. Karena itu, investor pemula diminta tetap waspada dan berhati-hati.

"Pilihlah penyedia produk investasi yang terdaftar di OJK atau lembaga pemerintah lainnya," jelas dia.

Selanjutnya, investor harus memegang dan memahami prinsip high risk high return dan low risk low return.

"Ini akan tetap berlaku bagi kondisi dan produk manapun," ujarnya.

Simak Video "Tergiur Untung Besar, Banyak Warga Babel Tertipu Bitcoin"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com