ADVERTISEMENT
Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 20 Agu 2019 07:50 WIB

Dompet Digital Tanpa Aliran Listrik dan Internet (2)

Aidil Akbar Madjid - Aidil Akbar Madjid & Partners - detikFinance
Foto: iStock Foto: iStock
Jakarta - Jakarta, Banten, Jawa Barat dan Jawa Tengah mati lampu. Akses terhadap transaksi keuangan mendadak melemah bahkan beberapa kasus tidak bisa

transaksi. Sementara orang Indonesia dalam waktu beberapa tahun terakhir mulai dididik untuk menggunakan transaksi non tunai. Akibatnya banyak dari anak muda yang tidak punya banyak uang tunai di dompet maupun saku mereka, apalagi di lemari mereka di rumah.

Tidak punya akses terhadap keuangan anda bisa menjadi berbahaya. Dalam kondisi yang berbeda di mana orang tidak bisa akses terhadap keuangan mereka di saat yang bersamaan tidak punya dana cadangan tunai di rumah pernah terjadi di Amerika, yaitu ketika peristiwa 911 terjadi di mana bursa rontok dan industri finansial di Amerika terhenti selama beberapa hari dan beberapa minggu.

Masyarakat di Amerika saat itu tidak bisa mengakses keuangan mereka bahkan untuk mengambil uang dari ATM saja tidak bisa.

Waktu itu masyarakat di Amerika terlalu pede untuk menyimpan uang mereka ke dalam produk investasi semua, mengingat di tahun 90an bursa saham naik cukup tinggi. Selain itu juga dengan kecanggihan teknologi saat itu, mereka bisa akses uang mereka kapan saja.

Akibatnya mereka lupa kalau mereka tidak menyimpan dana tunai yang cukup. Padahal mereka butuh uang untuk bisa bertahan hidup seperti membeli bahan makanan di supermarket yang harus membayar secara tunai karena akses elektronik terutama di kota New York waktu itu lumpuh total.


Apa pelajaran berharga yang bisa kita Tarik dari kejadian ini? Bahwa kita tidak bisa bergantung pada transaksi elektronik saja semata. Ketika akses terhadap uang anda tergantung di transaksi elektronik, bergantung pada listrik dan akses internet dan hal tersebut terganggu maka cara tradisional dengan membayar secara tunailah yang bisa dilakukan.

Pelajaran lain yang bisa dipetik dari 2 contoh kejadian di atas adalah bahwasannya dana darurat penting untuk dimiliki dan bahwa dana darurat tetap harus ada sebagian yang berbentuk tunai yang disimpan di rumah (istilah dalam Bahasa Inggrisnya cash in hand).

Kenapa? Pertama contoh di Amerika tadi ketika seluruh dana disimpan dalam bentuk investasi dan bursa serta institusi keuangan rontok anda tidak bisa mengakses dana anda.

Selain itu bila kondisi ini terulang lagi, maka secara keuangan anda tidak harus bergantung pada uang elektronik, dompet elektronik dan juga akses mengambil dana anda secara elektronik dan anda masih bisa bertahan beberapa jam, beberapa hari sampai beberapa minggu sampai anda bisa mendapatkan akses kembali ke uang/dana anda.

Jadi yang harus selalu diingat dan dilakukan adalah, dana darurat tidak boleh dalam bentuk produk investasi (kecuali emas batangan), harus berbentuk likuid. Sebagian dari dana darurat tersebut pun juga wajib disimpan dalam bentuk tunai di lemari di rumah atau di safe deposit yang ada di rumah.

Karena percuma saja anda punya dana darurat likuid yang banyak di bank tapi tidak bisa diakses dan ditarik. Ini kira-kira seperti anda punya HP mahal seharga 20 juta, tapi tidak punya uang untuk beli paket data.


Disclaimer: artikel ini merupakan kiriman dari mitra yang bekerja sama dengan detikcom. Redaksi detikcom tidak bertanggung jawab atas isi artikel yang dikirim oleh mitra. Tanggung jawab sepenuhnya ada di penulis artikel.

Simak Video "Tips Mengelola Keuangan Ala Astrid Tiar"
[Gambas:Video 20detik]
(ang/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com