ADVERTISEMENT
Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 01 Nov 2019 07:00 WIB

Benarkah Dompet Digital Malah Bikin Boros? (2)

Aidil Akbar Madjid & Partners - detikFinance
Foto: iStock Foto: iStock
Jakarta - Demam e-wallet alias dompet digital meraja rela di mana-mana. Apalagi dengan adanya kompetisi cash-back yang membuat orang berlomba-lomba mengunduh dan menggunakan aplikasi tersebut untuk mendapatkan uang kembali (cash back).

Kondisi berlomba-lomba menawarkan uang kembali ini yang lama kelamaan menjadi tidak sehat karena masyarakat baru akan berbelanja ketika ada promo tersebut. Nah hal ini yang berbahaya untuk kelangsungan bisnis termasuk bisnis dari e-wallet itu sendiri. Hal ini akan kita bahas pada
artikel berbeda.

Kembali kepada tujuan awal, bahwa e-wallet berfungsi untuk mempermudah masyarakat melakukan transaksi keuangan tanpa dikenakan biaya yang besar. Selama ini transaksi keuangan dilakukan secara online dari rekening bank. Akan tetapi karena regulasi dan aturan main yang ketat membuat alur transaksi menjadi lambat dan biaya per transaksi menjadi mahal (saat ini transaksi bank di kisaran antara Rp 3.000 sampai Rp 6.500 per transaksi).

Yang kemudian menjadi isu dan menyebabkan keresahan di masyarakat adalah, karena kemudahan bertransaksi tersebutlah, maka menyebabkan masyarakat merasa bahwa mereka semakin sering menggunakan dompet digital mereka untuk berbelanja yang pada akhirnya masyarakat merasakan bahwa keuangan mereka semakin hari semakin boros. Benarkah demikian?

Menurut saya dan pengalaman saya pribadi, boros atau tidaknya seseorang sebenarnya tergantung dari sifat dan karakter mereka masing-masing sih. Kalau orangnya sebenarnya tidak boros, maka akses yang mudah untuk bertransaksi pun tidak akan menyebabkan orang tersebut menjadi boros.



Generasi milenial yang gemar jajan dengan mempunyai akses pembayaran yang mudah ini maka "jajannya semakin jauh". Maksudnya adalah kalau sebelumnya mereka hanya bisa "jajan" di sekitar rumah atau kantor, maka dengan metode pembayaran yang mudah ini membuat mereka bisa melakukan pembayaran untuk jajan mereka yang letaknya lebih jauh dari lingkaran kantor dan tempat tinggal mereka.

Apalagi kemudahan ini dibantu dengan adanya aplikasi ojek online yang bisa membantu mengantarkan pesanan anda tanpa ada kendala jarak, selama masih di dalam kota yang sama.

Lalu untuk mencegah terjadinya pemborosan apa yang bisa kita lakukan? Berapa banyak e-wallet yang seharusnya kita miliki? Jumlah e-wallet yang sebaiknya Anda miliki akan sangat tergantung dengan kebutuhan penggunaan e-wallet harian Anda.

Apabila anda berpergian menggunakan transportasi publik seperti ojek online dan taksi online, maka akan lebih bermanfaat bila Anda menggunakan dompet digital yang bisa juga dipakai untuk melakukan pembayaran transportasi Anda.

Atau bila tempat belanja rutin bulanan Anda menerima pembayaran dengan menggunakan dompet digital tersebut, maka Anda bisa memutuskan untuk memilih menggunakan dompet digital tersebut untuk mempermudah transaksi belanja rutin bulanan Anda.

Pertanyaan berikutnya adalah berapa besar dana yang harusnya dimasukkan di e-wallet?

Menurut pengalaman pribadi saya, jumlah nominal uang yang ada di dompet digital hanya sebesar belanja/keperluan rutin harian saya untuk 3 hari ke depan. Sehingga saya hanya mengisi uang dengan jumlah terbatas. Anda bisa mengisi dompet digital 1-2 kali per minggu.

Yang terpenting adalah hindari mengisi dalam jumlah besar karena anda akan tergoda untuk menggunakan uang tersebut. Harus diingat adalah dompet digital seharusnya membantu mempermudah transaksi keuangan Anda, bukannya justru semakin mempersulit atau bahkan menyebabkan masalah keuangan.

Ketika Anda mulai merasa semakin boros, maka sebaiknya akses dompet digital bisa Anda putus atau hapuskan. Lagi pula, 5 tahun yang lalu anda hidup tanpa adanya dompet digital dan tidak terjadi apa-apa kan?

Yang paling penting adalah Anda mengetahui atau mencatat kemana anda membelanjakan uang Anda setiap bulan. Untuk pencatatan ini Anda bisa menggunakan tools secara gratis seperti aplikasi Moneesa. Aplikasi bisa diunduh di sini.

Selain mencatat Anda juga perlu berinvestasi dan berasuransi, masalahnya banyak orang malas ketemu agen. Nah, Anda bisa cek premi asuransi tanpa takut dikejar-kejar agen melalui aplikasi Bregaswaras, bisa diunduh di sini.

Selain itu anda juga bisa mengikuti kelas dan workshop, infonya bisa Anda dapatkan dari aplikasi tersebut di atas atau Anda bisa cek di sini.

Simak Video "Aksi Erick Thohir Benahi BUMN, Rekrut Ahok hingga Chandra Hamzah"
[Gambas:Video 20detik]
(eds/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com