Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 22 Mei 2020 06:05 WIB

Masalah Keuangan Rutin Bulanan (2)

Aidil Akbar Madjid - Aidil Akbar Madjid & Partners - detikFinance
Ilustrasi THR Foto: Muhammad Ridho
Jakarta -

Banyak yang mengeluh kalau mereka tidak bisa menabung dan investasi setiap bulannya, padahal bila ditanya uangnya habis ke mana saja, tatapan matanya mendadak menjadi nanar dan mukanya menjadi bingung. Kenapa?

Karena mayoritas orang tidak pernah mengetahui dan tidak pernah mencatat pengeluarannya, karena dianggap pengeluaran tersebut nomial kecil. Akan tetapi pengeluaran dengan nominal kecil yang dilakukan sering secara rutin justru bisa memberatkan keuangan bulanan kita.

Apa saja sih pengeluaran kecil tersebut yang sering dilakukan? Di artikel sebelumnya sudah dijabarkan beberapa pengeluaran yang sering kita lakukan setiap bulannya yang kalau dikumpulkan akan mengganggu keuangan bulanan, antara lain:
- Kebanyakan Jajan
- Kebanyakan Jalan Ke Mall di Akhir Pekan
- Kebanyakan Makan Enak

Naaah, kebanyakan apa lagi sih yang bisa bikin keuangan kita berantakan? Yuk kita bahas kelanjutannya.

Kebanyakan Belanja Online
Ini juga berbahaya. Sesuatu yang berlebihan atau kebanyakan memang tidak baik, demikan juga dengan belanja online. Dalam banyak hal belanja secara online sungguh membantu menghemat waktu dan tenaga.

Saya pribadi menikmati belanja secara online, meskipun untuk beberapa item yang butuh cepat tidak bisa mengandalkan belanja melalui online karena ada proses pengiriman yang membutuhkan waktu.

Akan tetapi secara rata-rata apabila diatur dengan benar, belanja online cukup nyaman. Permasalahannya bila hal ini dilakukan secara berlebihan yang akan membuat keuangan kita berantakan.

Dalam beberapa kasus yang kami jumpai belanja online malah menyebabkan beberapa orang ketagihan. Ketagihannya sendiri bisa dalam beberapa tingkatan.

Misalnya ketagihan berseluncur di situs atau di aplikasi untuk melihat-lihat sambil memainkan jempol kita. Itu satu hal.

Ketagihan yang lain adalah rasa deg-degan ketika menerima paket, membukanya (istilah kerennya unboxing) dan mencoba barang yang dibeli apakah sesuai dengan espektasi atau tidak atau malah melebihi espektasi.

Saya sendiri pernah diminta untuk memberikan materi pelatihan kepada karyawan yang tinggal di tengah hutan (kamp perkebunan sawit). Ini terjadi karena karyawan yang tadinya bisa menabung uang mereka untuk dibelanjakan apabila ke kota besar atau kembali ke daerah asal, saat itu malah tidak bisa menabung lagi karena keuangan mereka habis dipakai untuk belanja online. Ini yang berbahaya bagi keuangan kita.

Kebanyakan Mondar-mandir ke Mana-mana
Mondar-mandir itu tidak hanya transportasi pergi kerja ke kantor atau sekolah dan pulang ke rumah tapi juga pergi meeting dan nongkrong. Meskipun ongkos transportasi publik relatif dianggap murah dengan ongkos antara Rp 5.000 - 15.000 per sekali jalan.

Akan tetapi ketika anda harus naik beberapa angkutan umum (nyambung) dan harus melakukan beberapa pemberhentian, maka biaya transportasi harian tersebut menjadi relatif mahal bisa lebih dari Rp, 50.000 per hari.

Itu kalau naik kendaraan umum, kalau naik kendaraan pribadi lebih mahal lagi. Biaya bensin untuk mondar-mandir kendaraan biasanya di kisaran Rp 30.000 - 50.000 per hari untuk mobil dengan CC di bawah 2.000.

Belum lagi menghitung biaya parkir dan biaya tolnya, maka anda dengan mudah bisa menghabiskan Rp 100.000 per hari. Itu sebabnya banyak orang memilih menggunakan motor, yang juga tidak luput dari kena biaya parkir yang semakin mahal.

Lanjut ke halaman berikutnya

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Tips Merdeka Finansial dengan Gaya Hidup Minimalis"
[Gambas:Video 20detik]
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com