Terpaksa Ngutang, Mana Pinjaman Paling Aman?

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Minggu, 06 Sep 2020 20:30 WIB
Pinjam Online
Foto: Pinjam Online (Tim Infografis: Andhika Akbarayansyah)
Jakarta -

Banyak orang mulai berutang di tengah pandemi Corona, bagaimana tidak pandemi telah mendorong badai PHK terjadi pada banyak pekerja. Bagi yang bekerja pun tak sedikit yang gajinya terpaksa harus dipotong.

Pendapatan makin minim, memenuhi kebutuhan hidup makin sulit. Kalau sudah mentok, tak jarang utang dipilih banyak orang sebagai jalan keluar.

Apabila terpaksa berutang, pemilihan tempat berutang menjadi hal yang penting. Perencana Keuangan dari Advisors Alliance Group Indonesia Andy Nugroho menyarankan agar memilih sumber paling lunak apabila terpaksa harus berutang.

Menurutnya, yang paling lunak adalah berutang kepada orang terdekat, mungkin teman, tetangga, atau pun kerabat dekat. Hal itu dilakukan agar bisa mendapatkan dana segar dengan cepat sekaligus aman bagi yang berutang.

"Kalau saran saya sih coba pinjaman yang paling lunak, keluarga, teman, tetangga. Mereka lebih aman, seandainya macet bayar, perku negosiasi lagi mungkin mereka mau ngertiin. Tapi bukan jadi excuse (alasan) untuk tidak mau bayar lho ya," kata Andy kepada detikcom, Minggu (6/9/2020).

Andy mengatakan kalau bisa dalam berutang hindari rentenir ataupun pinjaman online, keduanya menurut Andy memiliki skema yang sama. Keduanya bisa memberikan dana segar sesuai keinginan, namun bunganya sangat besar.

Negosiasinya pun menurutnya akan sulit. Apabila macet bayar, yang berutang bisa saja malah dikejar-kejar, tanpa ada negosiasi.

"Ya memang akan jadi godaan nih ke rentenir, atau pinjaman online. Karena kan kita bisa dapat dana segar dengan cepat sesuai keinginan, tapi ingat ada bunga tinggi di situ, kalau nggak bisa bayar tepat waktu juga bisa dikejar-kejar, baiknya itu benar-benar jadi alternatif terakhir," kata Andy.

Kemudian dia mengatakan bagi yang memiliki kartu kredit bisa jadi opsi alternatif. Misalnya untuk membeli kebutuhan bulanan ke supermarket, bisa saja pilih 'gesek' kartu kredit dahulu.

Nantinya sambil mencari sumber pemasukan lain, bisa saja per bulannya membayar jumlah minimal terlebih dahulu.

"Bisa sih andelin kartu kredit, tapi hanya untuk kebutuhan sehari-hari dan dia bayar tagihan minimalnya tiap bulan. Kan kalau kartu kredit ada tagihan minimal, tapi tetap harus cari pemasukan lain, nggak bisa terjebak utang terus," kata Andy.

Untuk meminjam ke bank, justru Andy tak terlalu menyarankan, pasalnya syarat yang ditujukan cukup banyak. Salah satunya adalah harus menyiapkan jaminan yang cukup besar, misalnya sertifikat rumah. Pinjamannya pun tak bisa sedikit harus besar.

"Kalau di bank ini cukup sulit ya, karena dia kan pinjaman mesti besar, kalau buat sehari-hari malah kelebihan utangnya. Belum lagi harus ada collateral di situ, cukup besar juga, misalnya BPKB motor ataupun sertifikat rumah," kata Andy.

Di samping itu, Andy mengatakan ada baiknya utang dijadikan opsi paling terakhir. Kalau bisa sebelum berutang, mencoba terlebih dahulu usaha yang minim modal, ataupun menjual atau menggadaikan barang untuk dapat dana segar.

"Ya mesti wajar dan dimaklumi kalau terpaksa, utang jangan jadi pilihan. Coba usaha dulu dapatkan pemasukan, atau bisa menjual atau menggadai barang," tegas Andy.



Simak Video "Utang Luar Negeri Indonesia Tumbuh 4,1% Jadi Rp 6.104 T"
[Gambas:Video 20detik]
(dna/dna)