Biar Nggak Zonk, Ini Tips Aman Simpan Duit Miliaran di Bank

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Sabtu, 14 Nov 2020 15:30 WIB
Pengembalian Uang Korupsi Samadikun

Kepala Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta Toni Spontana (tengah) menyerahkan secara simbolis kepada Wakil Direktur Utama Bank Mandiri Sulaiman A. Arianto (ketiga kanan) uang ganti rugi korupsi Bantuan Likuidasi Bank Indonesia (BLBI) dengan terpidana Samadikun Hartono di Gedung Bank Mandiri, Jakarta, Kamis (17/5/2018). Mantan Komisaris Utama PT Bank Modern Samadikun Hartono terbukti korupsi dana talangan BLBI dan dihukum 4 tahun penjara serta diwajibkan mengembalikan uang yang dikorupsinya sebesar Rp 169 miliar secara dicicil. Grandyos Zafna/detikcom

-. Petugas merapihkan tumpukan uang milik terpidana kasus korupsi BLBI Samadikun di Plaza Bank Mandiri.
Ilustrasi/Foto: grandyos zafna
Jakarta -

Kasus hilangnya uang nasabah Maybank, Winda Earl sebesar Rp 22 miliar membuat gempar industri perbankan. Winda menyebut jika ia selama ini tidak memegang buku tabungan atau kartu ATM. Ia hanya diberikan rekening koran untuk mengecek saldo di rekeningnya.

Untuk simpanan berjumlah Rp 22 miliar, apakah ini aman?

Perencana Keuangan dari Advisors Alliance Group (AAG) Andy Nugroho mengungkapkan jika memiliki tabungan dalam jumlah yang besar sebaiknya pemilik harus memperhatikan keamanannya. Mulai dari buku tabungan hingga kartu ATM harus benar-benar aman disimpan oleh diri sendiri.

"Untuk pemilik rekening tabungan juga harus mencetak buku tabungan atau memeriksa saldo secara berkala, paling tidak satu bulan sekali," kata dia saat dihubungi detikcom.

Selain itu, pemilik rekening juga harus memiliki akses dan aktif memeriksa melalui mobile atau internet banking.

Kemudian, hal yang paling penting adalah jangan pernah membagikan pin ATM/ user ID, password hingga PIN ATM atau tabungan ke sembarang orang.

"Karena bank itu tidak pernah meminta PIN atau password tersebut," ujar dia.

Selanjutnya, tabungan bisa dipecah ke beberapa akun rekening. "Jika perlu ke beberapa bank agar risiko bisa terpecah," imbuh dia.

(kil/eds)