Apakah Anda Pengusaha Startup dan Mengalami Cash Deficit Syndrome?

Aidil Akbar Madjid – Aidil Akbar Madjid & Partners - detikFinance
Kamis, 31 Des 2020 21:14 WIB
Ilustrasi startup
Ilustrasi startup/Foto: Oli Scarff/Getty Images
Jakarta -

Indonesia sebagai negara dengan perkembangan startup posisi kedua di dunia. Hal ini menandakan kreativitas dan minat pelajar, mahasiswa dan anak muda Indonesia di bidang bisnis digital.

Namun, mengutip riset Anggota Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) Ikatan Akuntan Indonesia yang juga dosen FEB UNPAD Ersa Tri Wahyuni, "Rata-rata perusahaan digital 64 persen startup memiliki masalah dalam menyusun laporan keuangan dan menganggap laporan keuangan sebagai isu yang krusial," ujar Ersa saat Focus Group Discussion dengan mengangkat tema "Akuntansi di Era Revolusi Industri 4.0 yang digelar oleh Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia (SKSG UI) bekerja sama dengan Pranadipta Consulting" belum lama ini.

Sebagai perusahaan baru yang kebanyakan belum bisa memperoleh pendapatan yang besar, rentan dengan budget atau biaya operasional yang kebanyakan masih minim dimiliki. Namun, di sisi lain tambahan modal Investor diperlukan untuk mempercepat pertumbuhan bisnis yang kian berujung pada situasi yang sering dialami para pengusaha yaitu masalah kekurangan uang yang membuat bisnis tidak bisa tumbuh dan berkembang.

Dalam artikel ini akan difokuskan ke hal-hal yang menjadi hambatan pengusaha dalam pengembangan sebuah bisnis. Ada istilah yang disebut cash deficit syndrome. Cash deficit artinya sering kali kekurangan uang, misalnya income maupun profit-nya besar tapi sering saja kekurangan uang.

Keuangan merupakan unsur terpenting di dalam bisnis. Karena ini yang menjadi penentu usaha akan berkembang atau sebaliknya. Kalau anda mengalami hal ini, anda sedang berada di dalam bisnis yang tidak terkontrol. Berikut ini mari kita simak ada 6 (enam) langkah dalam membangun sebuah bisnis, sebagai berikut. Langsung klik halaman berikutnya.