Investasi Jangan Cuma Ikut-ikutan, Belajar Dulu Nih Risikonya!

Hendra Kusuma - detikFinance
Rabu, 19 Mei 2021 12:00 WIB
Ilustrasi perencanaan keuangan
Foto: Shutterstock
Jakarta -

Bagi anak muda yang mendapat angpao Lebaran boleh diinvestasikan pada berbagai instrumen. Mulai dari reksadana, obligasi, saham, logam mulia atau emas, hingga uang kripto.

Sebelum berinvestasi ke berbagai instrumen tersebut, ada baiknya kalian yang mendapat angpao Lebaran memahami syarat dan ketentuan yang berlaku, serta mengetahui profil risiko masing-masing.

Perencana keuangan dari Advisors Alliance Group Indonesia, Andy Nugroho mengatakan bagi masyarakat atau anak muda yang ingin berinvestasi tak boleh sekadar ikut-ikutan.

"Apapun instrumen investasi yang dipilih, jangan masuk hanya karena sekedar ikut-ikutan atau penasaran tanpa mempelajari lebih dulu investasi tersebut," tegasnya saat dihubungi detikcom, Jakarta, Rabu (19/5/2021).

Menurutnya, para masyarakat yang ingin memanfaatkan angpao Lebaran sebagai modal investasi harus mengetahui kelebihan dan kekurangan dari masing-masing instrumen yang ada.

"Mulai dari bagaimana proses kerjanya, bagaimana mendapatkan keuntungan, dan bagaimana menghindari kerugian," katanya.

Tidak hanya itu, Andy mengatakan setiap masyarakat juga harus mengetahui profil risiko dari masing-masing karakter individu. Untuk profil konservatif atau masyarakat yang takut mengambil risiko bisa menginvestasikan dananya ke produk obligasi ritel, logam mulia, deposito, dan reksadana pendapatan tetap.

Untuk profil agresif atau masyarakat yang berani mengambil risiko bisa menempatkan dananya pada produk investasi di pasar saham, reksadana berbasis pasar saham atau campuran, hingga pasar kripto. Sementara untuk profil di tengah-tengah atau moderat, maka instrumen yang bisa pilih adalah reksadana campuran.

"Risiko dari tiap instrumen tentu beda-beda reksadana, pasar saham, kripto, risikonya adalah penurunan nilai atau harga dari ketika kita beli. Sementara logam mulia risikonya selain penurunan harga, juga mungkin kenaikan harganya tidak sekencang semisal pasar modal dalam kondisi seperti sekarang," ungkapnya.

(hek/eds)