Benarkah Generasi Milenial Tidak Bisa Punya Rumah?

Lolita Setyawati - Aidil Akbar Madjid & Partners - detikFinance
Senin, 11 Okt 2021 07:41 WIB
milenial
Foto: Mindra Purnomo
Jakarta -

Tempat tinggal adalah kebutuhan primer manusia. Kita semua membutuhkan tempat tinggal yang layak supaya bisa menjalani hidup dan beraktivitas dengan nyaman.

Saat kita masih usia anak-anak sampai menjelang dewasa, tentunya kita masih bergantung pada orangtua dan belum menjadi kebutuhan untuk memiliki tempat tinggal sendiri. Namun di saat kita sudah beranjak dewasa, apalagi jika sudah berkeluarga dan harus hidup mandiri, kebutuhan untuk memiliki tempat tinggal sendiri menjadi hal yang tidak dapat ditawar-tawar lagi.

Belakangan kita mendengar berita di media bahwa generasi milenial tidak bisa memiliki rumah tinggal sendiri. Kenapa bisa begitu?

Generasi milenial dinilai memiliki gaya hidup konsumtif, kurang mengalokasikan penghasilan untuk tabungan, belum merasa perlu memiliki rumah, dan lebih memilih membelanjakan dananya untuk hal-hal yang bersifat keinginan atau kesenangan. Ditambah lagi, harga rumah di pasaran saat ini dinilai sudah terlalu tinggi dan tidak sesuai dengan kenaikan standar gaji para milenial.

Selain itu, minat pekerjaan sebagian milenial beralih ke industri kreatif, sebagai freelancer atau memiliki usaha sendiri, di mana tidak terdapat slip gaji dan penghasilan tetap. Sehingga generasi milenial lebih sulit untuk memenuhi persyaratan dalam membeli rumah dengan fasilitas Kredit Kepemilikan Rumah (KPR).

Hal ini tentu saja semakin menyulitkan bagi generasi milenial untuk dapat memiliki rumah tinggal sendiri. Selain permasalahan tersebut, sebagian generasi milenial beranggapan bahwa menyewa rumah tinggal jauh lebih ekonomis daripada membeli sendiri, dan mereka lebih memilih menempatkan dana pembelian rumah ke instrumen investasi yang dianggap lebih menguntungkan.

Apakah permasalahan seperti yang dialami oleh generasi milenial di atas dapat diatasi? Tentu saja bisa. Generasi milenial harus terlebih dahulu memahami bahwa kebutuhan tempat tinggal adalah sesuatu yang sifatnya premier dan tidak bisa dielakkan.

Kita tidak mungkin menumpang tinggal di rumah orang tua atau pondok mertua indah untuk seterusnya ya kan? Dan kalau kita menyewa rumah terus sampai dengan usia pensiun, apakah kita akan masih sanggup membayar uang sewa tersebut setelah pensiun? Tinggal di rumah milik sendiri di masa pensiun tentunya lebih nyaman daripada menyewa rumah.

Akan tetapi, tidak semua orang memiliki sumber daya keuangan yang cukup untuk membeli tempat tinggal sendiri sehingga harus mempertimbangkan untuk menyewa. Menyewa tempat tinggal memiliki konsekuensi positif dan negatif, positifnya antara lain adalah:
1. Dananya bisa dimanfaatkan untuk tujuan keuangan lain yang mungkin lebih menjanjikan untuk masa depan,
2. Lokasi rumah sewa biasanya lebih strategis, lebih dekat dengan lokasi kantor dan pusat kota; dan
3. Kita tidak perlu membayar pajak atas bumi dan bangunan serta biaya perbaikan rumah yang sifatnya konstruksi.

Namun demikian, ada juga sisi negatif dari menyewa tempat tinggal, seperti:
1. Sifatnya tidak menetap, mungkin kita harus berpindah-pindah tempat karena satu dan lain hal,
2. Kita harus menyediakan pos anggaran sewa rumah setiap tahun, dan
3. Saat kita sudah pensiun atau tidak lagi memiliki penghasilan, kita tetap harus menyediakan dana untuk menyewa rumah.

Sebelum mempunyai rumah baik itu sewa maupun membeli, coba buat daftar pengeluaran alias bujet pengeluaran yang berhubungan dengan memiliki rumah tersebut deh. Bagaimana sih cara menyusun bujet yang mudah? Bisa dipelajari dengan ikut workshop simple seperti di sini, sementara untuk belajar investasi terutama di reksa dana bisa cek di sini. Nah workshop ini juga ada versi syariahnya, untuk info bisa dilihat di sini ya.

Kamu juga bisa melakukannya dengan belajar perencana keuangan bersertifikasi secara online secara mandiri (self study), mudah, terjangkau dan bisa belajar sesuai waktu kita. Untuk info-info kelas secara online (self study) baik yang gratisan ataupun biaya terjangkau sekali, bisa dilihat di sini.

Nah tadi itu kan kalau kita memilih untuk sewa rumah, lalu bagaimana bila opsinya adalah membeli rumah? Apa saja keuntungan yang kita peroleh bila membeli rumah? Tunggu pembahasannya di artikel berikutnya.

(eds/eds)