ADVERTISEMENT

Anak Muda Jakarta Mau Irit Tapi Sulit, Gimana Ya Cara Nabungnya?

Jihaan Khoirunnissa - detikFinance
Rabu, 13 Jul 2022 16:03 WIB
Dompet Digital DANA
Foto: detikcom
Jakarta -

Sebagai kota metropolitan, Jakarta dikenal memiliki biaya hidup yang cukup tinggi dibandingkan kota-kota lainnya. Tidak sedikit anak muda yang bekerja dan merantau di Jakarta yang mengaku kesulitan untuk mengatur keuangan.

Hal tersebut diakui oleh Co-Founder Lynk.id Agusleo Halim. Leo mengatakan banyak dari kalangan muda yang mengeluhkan tidak bisa menabung karena tingginya kebutuhan hidup di Jakarta. Apalagi dengan gaji pas-pasan yang hanya sebatas Upah Minimum Regional (UMR).

"Kadang-kadang ada yang tanya, (gaji) Rp 4 juta di Jakarta, Rp 2 juta (untuk kebutuhan) bisa dapat apa?," katanya di Dana Virtual ExpertTalks 'Sedikit-sedikit Jadi Bukit' yang digelar online, Rabu (13/7/2022).

Padahal menurutnya tidak semua pengeluaran akibat biaya kebutuhan yang tinggi. Terkadang, ada saja yang masih sulit membatasi gaya hidup, dan belum bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Dia pun menyarankan anak muda untuk mulai dengan menerapkan metode 50-30-20. "Di mana 50 persen (dialokasikan) ke kebutuhan, 30 persen ke keinginan, dan 20 persen (untuk) saving," jelasnya.

Leo menjelaskan rules tersebut juga dapat berlaku terhadap konteks pendapatan. Jadi tidak hanya terbatas untuk mengatur income saja. Diungkapkannya, apabila pendapatan belum bisa mencukupi kebutuhan hidup di Jakarta, maka solusi lainnya yaitu dengan mencari tambahan income.

"Berarti kalau mau hidup di Jakarta, bisa ditambah gajinya. Kebanyakan orang fokus teori di buku, plek-plek. Padahal kalau teori tersebut diterapkan ke konteks pendapatan juga sama," katanya.

"Misal ada 50 persen gaji di pekerjaan X. Lalu 30 persen di Y, dan 20 persen (gaji) di Z. Jadi kita punya revenue stream. Kalau melihat ke Amerika, millioner di sana at least memiliki 3 sumber pendapatan. Jadi, nggak cuma fokus di saving stocks, tapi juga ke pendapatan," tambahnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Olivia Louise yang merupakan seorang financial planner. Olivia mengatakan kebanyakan anak muda sulit berhemat, bahkan cenderung over budget karena tidak melakukan pencatatan keuangan dengan baik.

"Jadi nggak tahu tuh uang kemarin sudah keluar berapa, hari ini (uang) keluar berapa. Lalu yang kedua, karena merasa sudah punya pendapatan tetap, hari ini dapat gaji dihabiskan saja hari ini. Karena (menganggap) bulan depan pasti dapat gaji ini," tuturnya.

Olivia pun menawarkan metode yang lebih sederhana yang bisa dicoba oleh anak-anak muda. Yakni menggunakan prinsip 80/20 Pareto.

"Jadi 80 persen untuk biaya hidup, dan biaya happy-happy. Sisanya 20 persen untuk saving. Jadi ketika 20 persen sudah ditaruh di pos saving atau investasi, kalau tiba-tiba ada impulsive buying, yang silahkan. Biasanya nggak ada rasa bersalah, karena sudah langsung disisihkan," katanya.

Kendati demikian, alokasi 20 persen untuk menabung atau investasi merupakan standar idealnya saja. Sebab dia menilai jumlah tersebut bisa menyesuaikan kondisi keuangan masing-masing orang.

Bahkan menurutnya, masyarakat bisa mulai menabung dan berinvestasi sedikit demi sedikit, dari nominal yang kecil namun dilakukan secara konsisten. Cara ini cocok untuk pekerja dengan gaji pas-pasan setiap bulan.

"Padahal dengan nominal yang kecil saja (sudah bisa saving dan investasi). Contohnya DANA, dia ada fitur namanya DANA eMas, di mana teman-teman bisa simpan, investasi emas hanya dengan Rp 3 ribu aja setiap hari selama 1 tahun. Tabungan emas ini nanti bisa di-convert menjadi emas batangan asli. Itukan Rp 3 ribu ibarat kita kurang-kurangin lah beli kopi, (sisanya bisa ditabung)," tandasnya.



Simak Video "Sudahkah Kamu Jalani Hidup yang Zero Waste?"
[Gambas:Video 20detik]
(ega/ega)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT