Anggota TNI Sulit Atur Keuangan

Konsultasi Keuangan

Anggota TNI Sulit Atur Keuangan

- detikFinance
Senin, 11 Feb 2008 09:22 WIB
Jakarta - Pertanyaan:

Saya mohon bantuan karena saya sering sekali kerepotan dalam pengaturan keuangan dalam rumah tangga saya. Saya bekerja sebagai TNI yang berpangkat rendah dengan penghasilan Rp 2.400 000,- sudah di potong cicilan rumah Rp 460.000,-. Jadi dengan sisanya itulah buat hidup kami sekeluarga. Anak saya 2, satu kelas 2 SD dan kursus bahas Inggris dengan biaya perbulan Rp.100000. Sedangkan anak ke 2 Tk A, dengan spp Rp.50.000.
 
Saya sebetulnya sudah lama ingin buka usaha kecil-kecilan tapi saya bingung usaha apa yang cocok buat saya, karena kadang saya harus tugas ninggalkan rumah selama 1-2 bulan. Selama ini kami sama sekali tidak bisa menabung bahkan cendrung selalu kurang.
 
Yang ingin saya tanyakan bagai mana cara mengatur keuangan kami kami saya ingin pendidikan anak-anak saya bisa lebih baik dari saya yang hanya tamatan SLTA? Bagai mana cara memberi pengertian terhadap istri agar bisa menyesuaikan pengeluaran dengan pemasukan agar kami setigaknya tidak minus setiap bulannya?
 
Demikian harapan saya bisa mendapat masukan yang bermanfaat buat saya dan keluarga

Jawaban: 

Bapak yang Baik, tampaknya Bapak memang seorang Pahlawan sejati, baik bagi Masyarakat dengan mengabdi sebagai TNI, maupun Pahlawab bagi Keluarga dengan mencoba memikirkan bagaimana mengatur Keuangan Keluarga dengan Bijaksana.

Jika saya boleh membuat suatu Ringkasan dari informasi yang Bapak berikan maka :
  • Tujuan Keluarga adalah Pendidikan Anak sehingga mereka bisa mendapatkan pendidikan yang lebih baik dari orangtuanya, dalam hal ini adalah Meraih Gelar Sarjana.
  • Kondisi Penerimaan vs Pengeluaran belum dalam posisi positif atau belum memiliki selisih positif antara pendapatan keluarga dikurangi total pengeluaran yang dilakukan, jika ada selisih positif maka nilainya tidak sesuai harapan.

Untuk memperbaiki kondisi tersebut di atas maka Bapak sebaiknya melakukan hal-hal sebagai berikut :
1. Membuat Penghitungan Aset (Harta Kekayaan) vs Liability (Hutang) untuk mengetahui apakah bapak memiliki hutang yang angsuran atau cicilannya membebani Pengeluaran Keluarga. Jika ada hutang yang seperti itu maka jika Bapak memiliki Aset yang tidak produktif (atau tidak dipergunakan secara permanen atau tidak bisa menghasilkan pendapatan atau hanya menjadi beban tambahan biaya pengeluaran keluarga) maka sebaiknya dijual untuk menutupi atau mengurangi Nilai Hutang.  Termasuk hutang dalam hal ini adalah Tagihan Kartu Kredit yang terjadi akibat Gaya Hidup atau Konsumtif atau Belanja Kebutuhan yang Tidak Penting. 

2. Menghitung Arus Kas antara Pendapatan vs Pengeluaran untuk mengetahui apakah ada selisih positif atau malahan selisih negatif. Jika positif maka sebaiknya kondisi itu dipertahankan, dan selisih tersebut bisa dipergunakan untuk Investasi yang mudah dicairkan sehingga bisa menjadi Cadangan Dana Darurat (BUKAN UNTUK BELANJA / KONSUMTIF) jika diperlukan. Sedangkan jika Negatif maka harus menyesuaikan Gaya Hidup Keluarga.

3. Membuat prioritas Kebutuhan dengan cara membuat Daftar Kebutuhan Keluarga berdasarkan realita yang Keluarga lakukan selama ini.  Cantumkan semua kebutuhan yang Bapak dan Keluarga harus peroleh, termasuk jenis kebutuhan yang hanya menjadi keinginan.

Contoh Kebutuhan adalah:
  •  Kebutuhan Pendidikan Anak
  •  Kebutuhan Rutin Keluarga (misalnya Listrik, Air, Belanja Dapur, Belanja Keperluan Rumah),
  •  Kebutuhan biaya Transportasi,
  •  Kebutuhan biaya makan di kantor,
  •  Kebutuhan biaya jajan anak,
  •  Kebutuhan keperluan sekolah
  •  Cicilan hutang rumah
  •  Cicilan hutang lainnya
  •  Biaya keperluan Sumbangan untuk Sanak Saudara,
  •  Kebutuhan biaya perawatan dan kepemilikan rumah (contoh PBB, Sampah, Lingkungan, Keamanan dsb),
  •  Kebutuhan biaya perawatan kendaraan (STNK, bahan bakar, servis dsb),
  •  Kebutuhan biaya keperluan sosial (makan di restoran, nonton bioskop dll),
  •  Kebutuhan perawatan tubuh (salon, barber dll),
  •  Kebutuhan biaya darurat baik kesehatan atau barang kepemilikan (misalnya dokter, kerusakan kendaraan, renovasi atau perbaikan tempat tinggal dsb) dan
  •  Kebutuhan atas biaya-biaya lainnya yang selama ini dilakukan. 

Setelah itu Bapak dan Keluarga harus mengklasifikasikannya mana kebutuhan yang HARUS dipenuhi, dan mana kebutuhan yang SEBAIKNYA dimiliki, dan juga mana kebutuhan yang TIDAK PERLU dipunyai, atau kebutuhan yang hanya DIINGINKAN saja oleh Keluarga.

4. Buatlah Anggaran dengan cara menetapkan Biaya yang dibutuhkan untuk setiap jenis kebutuhan berdasarkan Daftar di atas. Nilai Biaya bisa diperoleh dari Kebiasaan Belanja yang dilakukan selama ini atau berdasarkan perkiraan Harga Barang atau Jasa atau Biaya dari Kebutuhan tersebut.

5. Sesuaikan atau perbandingkan Total Biaya untuk memenuhi Kebutuhan tersebut dengan Pendapatan yang Bapak miliki. Dari sinilah Bapak dan Keluarga bisa menentukan kebutuhan apa saja yang mampu untuk dipenuhi, dan kebutuhan apa saja yang harus dilupakan.

6. Tetapkan atau sesuaikan Gaya Hidup yang sesuai dengan Kondisi Finansial Bapak dan Keluarga.

7. Lakukan seluruh tahapan di atas bersama dengan Istri. Dan terakhir adalah Komitmen dan Kesepakatan untuk melaksanakannya dengan Baik dan Bijaksana. Terimalah konsekuensi dari perubahan Gaya Hidup yang sudah diputuskan bersama demi untuk mewujudkan Tujuan Hidup Bapak dan Ibu yaitu memberikan Pendidikan yang Terbaik bagi Anak-anak Bapak dan Ibu.

Mudah-mudahan penjelasan ini bisa membantu Bapak dan Ibu untuk mengatur Keuangan Keluarga sehingga memperoleh Kehidupan Keluarga yang tenteram, sejahtera dan bahagia. 
 

(qom/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads