"Berdasarkan pengamatan kami, gejolak pasar modal menimbulkan dua akibat, pertama redemption dan kedua beralih ke produk reksa dana yang lebih aman, yaitu reksa dana terproteksi," ujar Presiden Direktur PT Danareksa Investment Management, Priyo Santoso usai jumpa pers di kantornya, Jakarta, Kamis (18/9/2008).
Penurunan IHSG belakangan ini ikut membuat Nilai Aktiva Bersih (NAB) produk-produk reksa dana terkoreksi, terutama reksa dana saham dan campuran.
Beberapa pendapat mengatakan penurunan NAB berdampak pada tingginya tingkat redemption investor-investor reksa dana. Pendapat tersebut sebelumnya telah disanggah oleh ketua Asosiasi Pengelola Reksadana Indonesia (APRDI), Abiprayadi Riyanto.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Redemption memang terjadi, tapi jumlahnya tidak terlalu besar. Tapi memang ada. Dalam kondisi seperti ini, beberapa investor berpandangan lebih baik melakukan redemption. Biasanya mereka kemudian menempatkan dananya ke deposito. Karena returnnya lebih fixed," ulas Priyo.
Namun Priyo juga mengatakan, kebanyakan investor reksa dana lebih memilih berpindah portofolionya dari reksa dana saham atau campuran ke reksa dana terproteksi.
"Meski yield reksa dana terproteksi lebih kecil, bahkan bila dibandingkan bunga deposito, namun banyak juga yang beralih ke reksa dana terproteksi ketimbang melakukan redemption," ujar Priyo.
Sayangnya, Priyo belum bisa memberikan kepastian presentasi peralihan yang terjadi. Namun ia mengatakan, industri reksa dana telah memprediksi gejolak pasar modal sejak awal tahun ini.
"Itulah sebabnya mengapa tahun ini kebanyakan perusahaan manajemen investasi menerbitkan produk reksa dana terproteksi ketimbang produk lainnya. Dan ke depan, saya rasa tema utamanya masih reksa dana terproteksi, karena diperkirakan kondisi gejolak pasar modal masih berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama," jelas Priyo. (dro/ir)











































