Harga emas yang sempat menembus rekor tertingginya di US$ 1.900 per ounce selama September, tercatat sudah merosot hingga 8% dalam 2 pekan terakhir. Penurunan terbesar hingga seperempatnya terjadi pada Senin (20/9/2011) kemarin.
Dalam beberapa bulan terakhir, emas telah dipandang sebagai salah satu tempat investasi aman yang paling solid, terutama ketika negara-negara maju harus menghadapi perlambatan ekonomi dan tingginya utang sehingga harus mendapatkan kucuran likuiditas, berbarengan dengan melemahnya mata uang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun kekhawatiran terjadinya gagal bayar Yunani yang bisa menyeret negara Eropa lainnya, dan selanjutnya bisa memicu kerugian sistem perbankan Eropa membuat investor mulai berpaling ke dolar AS yang dinilai lebih aman.
"Orang-orang mulai bergerak lurus untuk tunai ketimbang mencari alternatif aset-aset yang aman seperti emas," ujar David Meger, direktur perdagangan logam Vision Financial Markets seperti dikutip dari Reuters, Selasa (20/9/2011).
Sejumlah manajer uang juga menyampaikan pandangan kehati-hatiannya sendiri.
"Saya telah menarik tanduk saya sedikit, dan bertahan mendekati netral. Hal-hal di belakang pikiran saya adalah situasi di Eropa," ujar Gregory Whiteley, yang mengelola portofolio surat utang pemerintah di Dobleline Capital dengan aset US$ 16 miliar.
Vice Chairman Loomis Sayles, Dan Fuss yang mengelola aset asing hingga US$ 160 miliar mengatakan, perusahaannya nilai meningkatkan eksposure aset-aset dolar AS selama musim panas karena tidak meredanya masalah di Eropa dan perekonomian AS yang mulai tumbuh.
Fuss mengatakan, eksposure dolar Loomis telah meningkat dari 60% menjadi 70%, sementara eksposure non-dolar turun dari 40% menjadi 30%.
"Kami meningkatkan eksposure pada aset-aset dalam dolar AS juga dikarenakan dunia sedikit menakutkan. Ada pergerakan taktis jangka pendek. Itu menyatakan, AS masih sangat jauh sebagai tempat berutang terbaik di dunia," ujarnya.
John Taylor, chief executive officer FX Concept yang mengelola dana hingga US$ 8 miliar mengatakan, dia masih memegang posisi jangka panjang untuk dolar AS. Taylor yang tahun lalu memrediksi AS bisa memasuki resesi lain di 2011 juga mengatakan, dia masih meyakini 'bearish' untuk saham-saham AS.
Beberapa analis mengatakan, penurunan emas mungkin sebuah tanda, investor yang telah masuk sejak awal mulai mengambil untung.
Seperti diketahui, emas memasuki awal tahun ini pada harga US$ 1.400 per ounce dan secara bertahap naik hingga menembus US$ 1.920 per ounce pada awal bulan ini. Namun secara perlahan, harga emas kini mulai surut.
"Emas telah kehilangan sedikit kilaunya, tapi emas adalah satu dari beberapa aset yang telah mencetak keuntungan jangka pendek untuk setiap orang belakangan ini," ujar Greg Salvaggio, vice president Tempus Consulting.
Sementara Adnan Akan, kepala forex Fischer Trancis Trees & Watt Faktanya, emas mungkin termasuk beberapa aset yang bisa dijual investor untuk menutup kerugian pada saham-saham dan aset berisiko lainnya.
Setelah kolapsnya Lehman Brothers pada pertengahan September 2008, ia mengatakan emas pada awalnya naik hingga 15% karena investor mencari tempat yang aman. Hingga akhir Oktober 2008, emas justru turun 20% karena investor harus memenuhi margin calls atau perdagangan yang berisiko.
"Anda mendapat kegugupan, pergerakan yang bergejolak seperti yang kita lihat sekarang dan orang-orang harus menjual apa yang mereka miliki," ujarnya.
Mekanisme yang sama cenderung untuk mendorong dolar AS pada waktu yang penuh tekanan karena investor yang membeli pada tingkat suku bunga terendah untuk membeli aset-aset yang imbal hasilnya lebih tinggi, harus buru-buru membeli kembali ketika aset-aset itu mulai turun nilainya.
Para pialang memperkirakan emas bisa rebound jika menembus US4 1.700 per ounce karena para pembeli mencari posisi untuk gain ke depannya. Harga emas terakhir berada pada US$ 1.778,49 per ounce. Sementara harga logam mulia dari Antam adalah Rp 572.000 per gram.
(qom/dnl)











































