Chief Economist and Director Investor Relation PT Bahana TCW Investment Management Budi Hikmat mengatakan, kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama tahun 2014 diprediksi tidak berbeda jauh dibandingkan rata-rata GDP nominal growth selama 5 tahun terakhir yang berkisar 13%.
Angka sektor riil ini terus mengalami penurunan dibandingkan periode 10 tahun terakhir di angka 15,7% dan 15 tahun terakhir di angka 17,8%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Budi menjelaskan, kinerja IHSG masih tertinggal dari negara-negara lain dipicu oleh risiko pelemahan nilai tukar rupiah yang terkait dengan posisi neraca berjalan yang defisit.
Pemerintah, kata dia, semestinya harus berusaha menjadikan pelemahan rupiah sebagai obat untuk memacu ekspor agar posisi neraca berjalan membaik.
"Semoga ini bukan harapan kosong, dengan potensi Indonesia yang besar paling tidak kita dapat berharap IHSG akan turut meningkat setelah valuasi bursa global dan region dianggap relatif mahal," ujar dia.
Lebih jauh dia menjelaskan, kinerja portofolio saham berdasarkan pengalaman selama 2013, ada risiko yang mendorong peningkatan suku bunga cenderung berimbas negatif terhadap emiten properti, consumer finance dan perbankan.
"Investor juga perlu berhati-hati terhadap perusahaan yang sensitif terhadap volatilitas nilai tukar rupiah, apakah melalui harga bahan baku hingga penggunaan utang," jelasnya.
Dalam kondisi pengetatan likuiditas, lanjut Budi, kemampuan emiten untuk mengalihkan peningkatan bunga kepada konsumen menjadi pertimbangan di dalam memilih emiten.
Kinerja perbankan besar selama triwulan ketiga 2013 dinilai tetap baik karena mereka dapat memindahkan beban BI rate yang lebih tinggi dengan menaikkan bunga kredit.
"Sektor properti tetap perlu diwaspadai. Memang betul prospeknya dalam jangka panjang terbilang cerah berkat dukungan penduduk berusia muda yang sedang membentuk keluarga," katanya.
Namun, Budi menyebutkan, ada indikasi BI bakal lebih ketat mengendalikan property boom. Bukan hanya karena risiko bubble, tetapi booming sektor properti ini mempersulit pengendalian defisit neraca berjalan.
"Kami cermati ada dua komoditas yang termasuk 5 penyumbang defisit perdagangan terbesar yang terkait sektor properti seperti kimia dan baja ringan," pungkasnya.
(drk/ang)











































