Follow detikFinance
Selasa 13 Sep 2016, 16:07 WIB

Pilih Mana: Reksa Dana, Deposito, Obligasi atau Emas?

Dewi Rachmat Kusuma - detikFinance
Pilih Mana: Reksa Dana, Deposito, Obligasi atau Emas? Foto: Grandyos Zafna
Jakarta - Bagi Perencana Keuangan Aidil Akbar, menaruh uang di tabungan dan deposito sama saja dengan membiarkan harta kita tergerus. Tilik saja, angka inflasi yang terus naik setiap tahunnya.

Rata-rata angka inflasi tahunan tercatat 4-5%, sementara bunga bank tidak lebih dari 2% per tahun dan deposito di kisaran 6-7%, belum dipotong pajak.

Boleh saja menaruh uang di deposito, hanya saja tidak bisa dijadikan tempat investasi. Deposito hanya dijadikan sebagai penempatan dana jangka pendek, kurang dari setahun.

"Ke deposito boleh tidak? Boleh saja tapi minimum deposito Rp 2,5 juta bahkan ada bank Rp 7-8 juta, tidak semua orang bisa buka dengan nominal segitu, terus bunga nggak terlalu besar, paling 5% potong pajak dapat net 4%, tidak terlalu besar, itu kenapa alasan orang nggak pilih deposito," ucap Aidil kepada detikFinance akhir pekan lalu.

Sementara untuk instrumen investasi jenis lain seperti reksa dana bisa dilakukan dengan modal minimum Rp 100.000 dan dinilai lebih menguntungkan. Lihat saja reksa dana saham misalnya.

Return atau imbal hasil reksa dana saham setiap tahunnya rata-rata mencapai di atas 17%, bahkan bisa di atas 20%. Ini tentu jauh dari bunga deposito dan kenaikan angka inflasi.

Kenaikan imbal hasil reksa dana saham tentu disesuaikan dengan kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), semakin tinggi, maka semakin tinggi pula return yang didapat.

Namun, jangan terlena dulu, sebanding dengan imbal hasilnya yang tinggi, risiko reksa dana juga tinggi. Istilahnya high risk high return.

Reksa dana jenis lain misalnya reksa dana pendapatan tetap. Dengan mengacu pada obligasi dan surat utang, reksa dana jenis ini bisa menghasilkan return rata-rata 7-12%.

Sementara untuk reksa dana campuran, yang mengacu pada obligasi dan saham, return yang dihasilkan rata-rata mencapai 12-17%.

Berbeda lagi dengan reksa dana pasar uang. Ini merupakan reksa dana yang cocok bagi investor yang memiliki profil risiko konservatif. Karena mengacu pada pasar uang, deposito dan obligasi, reksa dana jenis ini hanya menghasilkan return rata-rata 6-7% per tahunnya.

Instrumen investasi jenis lain misalnya obligasi. Investasi jenis ini juga menghasilkan tingkat bunga yang lebih tinggi dibandingkan deposito. Rata-rata tingkat bunganya berbeda-beda di kisaran 7-9%.

Di samping itu ada emas. Kepingan berwarna cerah ini juga merupakan salah satu instrumen investasi. Namun, emas dijadikan pilihan investasi biasanya bagi mereka yang memiliki profil risiko konservatif.

Keuntungannya tidak terlalu tinggi, namun investasi jenis ini dinilai aman dan likuid, paling tidak harta kita tidak akan tergerus.

Meski demikian, ada beberapa kelemahan berinvestasi di emas atau logam mulia. Investor harus punya tempat khusus untuk menyimpan emas-emasnya itu.

Selain itu, saat ini kilau emas sudah tidak lagi cemerlang seperti 12 tahun silam. Dulu, kenaikan harga emas atau logam mulia setiap tahunnya bisa lebih dari 12%.

Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, kenaikan harga emas mulai terbatas, hanya 10-12% setiap tahunnya. Bahkan, dalam 5 tahun terakhir, kenaikan harga emas hanya 6-7% per tahun.

"Jadi emas hanya untuk melindungi uang kita terhadap inflasi jadi bukan investasi, jadi kenapa di luar negeri emas itu disebut save haven jadi meng-hedging nilai uang kita," ucap dia.

(drk/ang)


Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed