Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 07 Feb 2019 08:20 WIB

Nabung Saham untuk Pemula

Prita Hapsari Ghozie - detikFinance
Foto: Rachman Haryanto Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Apa itu Menabung Saham? Investasi di saham secara langsung mulai mendapat perhatian dari masyarakat, terutama kaum milenial.

Ajakan untuk menabung saham kerap digaungkan di mana-mana. Sebelum Anda ikut dalam tren investasi ini, ada baiknya cari tahu apa itu menabung saham.

1. Apa itu saham?
Sederhananya, saham adalah bukti kepemilikan di sebuah perusahaan. Dengan menjadi investor saham, secara otomatis investor akan terdaftar sebagai pemilik perusahaan tersebut.

Untuk berinvestasi di saham, maka Anda harus memilih perusahaan yang sudah Go Public. Saham yang sudah go public diperdangkan di Bursa Efek Indonesia, namun hanya dapat dibeli melalui perusahaan sekuritas yang telah mendapatkan izin usaha dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

2. Berapakah jumlah modal untuk membeli saham?
Saat ini, transaksi saham sejumlah 1 lot = 100 lembar saham. Artinya, jika saham ABCD harganya Rp 1.000/lembar, maka investor membutuhkan dana sejumlah Rp 100 ribu untuk membeli saham tersebut, ditambah biaya pembelian.

3. Apa saja keuntungan berinvestasi saham?
Setiap investasi pasti mengandung risiko dan memberi potensi keuntungan. Dalam hal berinvestasi di saham secara langsung, ada 2 potensi keuntungan yang dapat diperoleh.

Dividen adalah bagi hasil yang diberikan oleh perusahaan go public bagi para pemilik saham. Dividen dapat dibagikan dalam bentuk tunai dan dalam bentuk saham.

Nilai dividen per saham dapat bervariasi dan tidak dapat dijanjikan. Capital gain alias selisih keuntungan adalah selisih positif antara harga beli (modal awal) dengan harga jual.

Jika seorang investor membeli saham ABCD dengan modal Rp 1 juta lalu menjualnya di harga Rp 1,2 juta, maka ada keuntungan dalam bentuk capital gain sejumlah Rp 200 ribu atau 20%.


4. Apa saja risiko berinvestasi saham?
Faktor risiko dari investasi saham secara langsung utamanya adalah fluktuasi harga saham dalam jangka pendek. Sebagai contoh, selama tahun 2018, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ternyata bergerak minus 2,54%.

Untuk jangka pendek tentu saja investasi ini berisiko. Selain itu, ada juga faktor risiko apabila perusahaan tidak mengeluarkan dividen sehingga potensi keuntungan investor menurun.

5. Bagaimana cara berinvestasi saham yang optimal?
Strategi yang baik digunakan untuk tipe investor dengan tujuan keuangan spesifik adalah tidak membeli saham secara sekaligus dalam satu waktu saja.

Tambahan lagi, tidak disarankan membeli saat harga saham sedang tinggi dan menjual saat harga saham jatuh berguguran. Pahami juga bahwa investasi di saham mengandung risiko fluktuasi yang cukup tinggi.

Berdasarkan pengalaman, hampir tidak ada broker profesional yang dapat selalu tepat dan konsisten meramalkan waktu paling menguntungkan untuk membeli atau menjual saham, apalagi seorang investor pemula.

Jika Anda mau menabung saham, maka setiap bulan uang diinvestasikan dengan jumlah yang sama setiap bulan, terlepas saat harga tinggi, mau pun saat harga rendah.

Jika waktu dan tenaga ada di sisi Anda, maka konsep menabung saham atau dollar-cost averaging merupakan strategi terbaik. Live a Beautiful Life!


Disclaimer: artikel ini merupakan kiriman dari mitra yang bekerja sama dengan detikcom. Redaksi detikcom tidak bertanggung jawab atas isi artikel yang dikirim oleh mitra. Tanggung jawab sepenuhnya ada di penulis artikel. (ang/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed