Fenomena Emak-emak Kerap Rugi saat Investasi, Bisa Jadi Investor Nggak Sih?

Aulia Damayanti - detikFinance
Selasa, 19 Apr 2022 07:00 WIB
Penipuan Investasi Bodong
Foto: Emak-emak Rugi Investasi (M Fakhry Arrizal/detikcom)
Jakarta -

Dunia investasi memang semakin tenar belakangan ini. Semua kalangan semakin melirik untuk mendapatkan cuan lebih dari berinvestasi, salah satunya kaum emak-emak.

Emak-emak di sini terutama ibu rumah tangga yang biasa menyisihkan uang belanjanya untuk berinvestasi. Namun, tidak semulus itu, banyak kasus yang membuat emak-emak teriak kalau mereka merugi.

Kasus-kasus kerugian itu saat mereka melakukan investasi di instrumen yang risikonya tinggi, seperti kripto. Padahal sudah banyak orang tahu, kalau instrumen itu memang sangat tinggi risikonya dibandingkan reksadana, pasar uang atau saham.

Pergerakan harga kripto sendiri bergerak terus selama 24 jam. Jadi, wajar jika risikonya sangat tinggi. Dalam beberapa waktu harga bisa berubah secara signifikan. Berbeda dengan saham yang memiliki jam pembukaan dan penutupan dalam satu hari.

Menurut Perencana keuangan dari Advisors Alliance Group Indonesia, Andy Nugroho emak-emak saat ini mengalami kerugian dalam berinvestasi karena hanya sekedar mengikuti trend atau pun terpengaruh oleh para influencer di sosial media atau lingkungan.

"Selain itu perasaan ingin mendapatkan keuntungan besar dalam waktu cepat juga mendorong tindakan tersebut. Namun sayangnya tidak dibarengi literasi dan pemahaman yang memadai tentang apa instrumen investasi yang akan mereka masuki," katanya kepada detikcom, Senin (18/4/2022).

Namun, menurutnya hal itu juga tidak terjadi kepada emak-emak. Kalangan bapak-bapak juga kerap kali terjebak dengan tren semata. Ia juga mengingatkan, investasi seperti di kripto memang sangat berisiko tinggi. Meskipun bisa dipantau dengan cara analisa teknikal.

"Investasi di kripto tidak ada underlying assetnya dan volatilitas harganya bisa sangat dinamis mengikuti permintaan pasar, sehingga naik turunnya harga bisa sangat ekstrim dan cepat," lanjutnya.

Andy mengingatkan jika ibu - ibu rumah tangga sekalipun bisa untung dan menjadi trader yang mumpuni, bila dibekali dan dibarengi dengan kemampuan dan pemahaman yang memadai tentang investasi dan pasar modal.

"Atau bahkan kripto sekalipun. Jadi bukan tergantung dari apa profesi para ibu-ibu ini, namun lebih pada bagaimana literasi dan kemampuan yang mereka miliki," tuturnya.

Bersambung ke halaman selanjutnya.