Demikian disampaikan oleh Direktur Utama Bukopin Glen Glenardi di sela MoU bersama Kemenpera di Gedung Kemenpera, Kebayoran, Jakarta, Senin (31/1/2011).
"Kurang lebih melalui FLPP itu Rp 3 triliunan dengan 50.000 unit rumah. Di 2010 sendiri total kredit KPR itu mencapai Rp 29 triliun nah di 2011 total KPR bisa dua kalinya karena FLPP ini," kata Glen.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dari keseluruhan total kredit Bukopin sekitar 10%-nya merupakan KPR jadi memang masih rendah," jelasnya.
Lebih jauh Glen mengatakan, total rasio kredit bermasalah di segmen KPR masih cukup rendah yakni sekitar 3%. Di 2011 Glen optimistis rasio kredit bermasalah (NPL) KPR Bukopin bisa turun menjadi 2,5%.
Dari sisi ekspansi di 2011 secara keseluruhan Glen mengatakan, kredit di 2011 akan tumbuh di posisi 25%. Didukung pendanaan melalui penawaran saham terbatas alias rights issue yang telah dilaksanakan beberapa waktu lalu.
"Ekspansi kita sekitar 25% di 2011. Kami utamanya mengembangkan UMKM yakni sekitar 50-60% dari total kredit dan konsumer sekitar 20-30%," tuturnya.
Sebelumnya, Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) telah menggandeng PT Bank Bukopin Tbk dalam penyaluran Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). Dengan adanya Bukopin, berarti bank pelaksana FLPP kini menjadi dua bank setelah sebelumnya PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) di 2010 lalu.
(dru/dnl)











































