Pengembang Tak Melihat Bubble di Sektor Properti

Pengembang Tak Melihat Bubble di Sektor Properti

- detikFinance
Senin, 13 Jun 2011 11:24 WIB
Pengembang Tak Melihat Bubble di Sektor Properti
Jakarta - Para pengembang yang tergabung dalam Real Estate Indonesia (REI) menegaskan bahwa sektor properti di Indonesia tak menunjukkan tanda-tanda bubble. Justru saat ini Indonesia mesih kekurangan jutaan rumah (backlog) karena masih banyak rumah tangga yang tak memiliki hunian

Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum Real Estate Indonesia (REI) Setyo Maharso kepada detikFinance, Senin (13/6/2011)

"Saya masih mau minta klarifikasi ke menteri keuangan (menkeu), saya tidak tahu pemikiran dari menkeu, yang dimaksud bubble oleh menkeu saya nggak tahu," tegas Setyo.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penegasan Setyo ini menanggapi pernyataan Menkeu Agus Martowardojo yang mengatakan kewaspadaan pemerintah mengenai ancaman 'gelembung ekonomi' alias bubble seiring derasnya modal masuk. Salah satu yang diwaspadai yakni sektor properti yang ternyata mengalami sedikit gejolak harga.

"Kita juga monitor property prices karena kadang menjadi bubble, dan kalau kita lihat di Jakarta Barat harga properti kok tidak begitu tinggi , kita mesti waspada dan itu semua kita jaga agar tidak ada satu dampak kepada ekonomi makro indonesia," ujar Menteri Keuangan Agus Martowardoyo ketika ditemui di sela acara World Economic Forum (WEF), di Hotel Shangri-La, kemarin.

Menurut Setyo, pernyataan Agus Marto tak sesuai dengan kondisi sektor properti di Indonesia yang saat ini masih jauh dari kata bubble. Justru berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tingkat backlog hunian di Indonesia saat ini telah menembus 13,6 juta.

"Beliau mungkin melihatnya hanya satu segmen saja yaitu apartemen mewah, kalau apartemen jika keluar regulasi soal kepemilikan asing, maka akan terserap," katanya.

Ia mengkhawatirkan jika pernyataan itu tak terklarifiasi dengan baik maka bisa memicu perbankan merespons reaktif. Padahal saat ini penyerapan permintaan perumahan masih tinggi dengan tingkat kredit macet (NPl) masih rendah.

"Ini belum clear arahnya, perbankan dikhawatirkan takut memberikan kredit pada kita, repot kita," katanya.
(hen/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads