Menteri Perumahan Rakyat Djan Faridz menyatakan jika PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) sebagai bank penyalur terbesar FLPP mundur, program FLPP di 2012 tetap berjalan. Tidak ada kekhawatiran dari pemerintah, karena masih ada bank BUMN lain yang berpartisipasi.
"Dengan atau tanpa BTN, FLPP tetap jalan," tegas Djan Faridz, di Jakarta, Selasa (31/1/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bunga BTN jauh di atas penawaran bank BUMN lain. Misalkan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) menawarkan bunga FLPP sebesar 7,12%, sedangkan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) menawarkan 6,35%. Nantinya dalam perjanjian kerjasama operasional (PKO) FLPP baru, bank penyalur harus mengikuti kehendak pemerintah, yakni bunga FLPP berada di kisaran 6%.
"Bank lain saja bisa. Ini kan komitmen bersama. Untuk awal kerjasama dengan bank BUMN. Kita akan kepung," tambahnya.
Tahun ini Kemenpera menargetkan penyaluran FLPP kepada 200 ribu rumah. Angka ini naik dari target sebelumnya di 170 ribu rumah. "Waktu itu bank lain belum terlalu tahu FLPP. Sekarang sudah. Untuk harga kita bantu," tegas Djan.
Hingga kini PT Bank Mandiri Tbk masih memproses PKO FLPP kepada Kementerian. Bank Mandiri menjadi BUMN terakhir yang terlibat penyaluran FLPP.
Djan menjamin Bank Mandiri akan menawarkan bunga rendah. Sama seperti bank BUMN lain di kisaran 6%. "Nanti seluruhnya akan sama. Saat ini masih difinalkan. Saya target awal bulan depan sudah keluar PKO, meski DPR kasih waktu sampai akhir Februari," paparnya.
Data terakhir terlihat, sepanjang periode 2010-2011 bank telah menyalurkan KPR FLPP sebanyak 120.814 unit senilai Rp 4,05 miliar. Penyaluran KPR FLPP terbanyak di pulau Jawa dengan jumlah 81.375 unit dengan nilai Rp 2,72 triliun.
Kemudian disusul Sumatera 19.565 unit senilai Rp 656 miliar, Kalimantan 9.410 unit senilai Rp 313 miliar, Sulawesi 8.235 unit senilai Rp 280,9 miliar, dan Bali Nusatenggara 3.756 unit serta Maluku Papua 473 unit.
Dari realisasi FLPP 2010-2011, BTN adalah bank penyaluar dengan jumlah terbesar. Pada KPR konvensional, perseroan berhasil menyelesaikan akad KPR 114.235 unit senilai Rp 3,81 triliun. KPR syariah BTN 6.184 unit senilai Rp 222,32 miliar.
Perbankan lainnya tergolong kecil. Ambil contoh Bank Bukopin yang hanya menyalurkan FLPP senilai Rp 7,3 miliar. Kemudian BNI hanya Rp 3,42 miliar.
Jika demikian, apakah Kemenpera berani mengambil risiko jika BTN tidak ikut FLPP 2012? Atau apakah BTN rela kehilangan portofolio KPR rumah murah yang selama ini mereka sudah bangun? Kita tunggu kesepakatan FLPP baru di awal Februari.
(wep/dnl)











































