Ketua Himbara Gatot M. Suwondo mengungkapkan upaya pemerintah melalui Menteri Perumahan Rakyat (Kemenpera) Djan Faridz untuk menurunkan suku bunga program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) sampai 5-6% sangat tidak masuk akal. Pasalnya, keuntungan yang didapatkan cukup minim bahkan bisa merugi bagi bank BUMN.
"Itu tidak make sense, kecuali semua dana berasal dari Kemenpera," kata Gatot di Jakarta, Senin (6/2/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mau berapa besarnya keuntungan itu bisa diatur, tapi jangan sampai di bawah. Kalau perumahan isu harga kalau 5% tidak masuk. Kita 7,2% masih bisa. Tapi masing-masing punya hitungan sendiri," jelasnya.
Seperti diketahui saat ini skim FLPP, yang merupakan dana pembiayaan rumah bersubsidi didanai oleh perbankan sebanyak 40% dan sisanya pemerintah 60% melalui penempatan dana murah di perbankan. Sepanjang 2011, bunga kredit rumah melalui FLPP ditetapkan sekiar 8,15% per tahun untuk pemberian kredit bertenor maksimal 15 tahun.
(dru/hen)











































