Namun Menteri Perumahan Rakyat (Menpera) Djan Faridz tetap yakin BTN akan berpartisipasi dalam program FLPP. Bahkan ia mengaku Keluhan bunga KPR FLPP dari BTN pun belum didengar langsung olehnya.
"Siapa yang bilang BTN mundur. Mereka akan tetap ikut FLPP. Pak Iqbal (Dirut BTN) tidak pernah mengatakan itu ke saya, tiap hari masih SMS-an," tuturnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Target FLPP awalnya 160.000 unit rumah, bisa naik 180.000 dan 200.000 dengan asumsi porsi pemerintah turun jadi 50:50. Jumlahnya jadi naik," tegasnya.
Sebelumnya, Direktur Utama BTN, Iqbal Latanro mengaku keberatan dengan bunga FLPP yang diinginkan Kemenpera sebesar 5%-6%. Perseroan akan merugikan karena banyak risiko yang harus ditanggung. Penawaran suku bunga FLPP yang BTN tawarkan sekitar 7,75%.
"Dengan porsi pemerintah bank tetap 60:40 bunga dari kita 7,75%. Kalau porsinya berubah menjadi 50:50 tentu akan lebih besar," jelas Iqbal waktu itu.
Bunga FLPP yang turun drastis, seperti dikehendaki Kemenpera tidak masuk hitungan bisnis BTN. Apalagi perseroan merupakan pemegang portofolio terbesar FLPP tahun 2011, dengan porsi hampir 99,4%.
"Mungkin karena pengetahuan kami luas, buat kami hati-hati. Kami tidak bisa menjalankan bisnis kalau rugi. Itu sulit. Kita punya data, tahun lalu dari bank penyalur berapa yang daftar. Dan realisasinya BTN tetap terbesar," imbuhnya.
Dari realisasi FLPP 2010-2011, BTN adalah bank penyaluar dengan jumlah terbesar. Pada KPR konvensional, perseroan berhasil menyelesaikan akad KPR 114.235 unit senilai Rp 3,81 triliun. KPR syariah BTN 6.184 unit senilai Rp 222,32 miliar.
Perbankan lainnya tergolong kecil. Ambil contoh Bank Bukopin yang hanya menyalurkan FLPP senilai Rp 7,3 miliar, kemudian BNI hanya Rp 3,42 miliar.
(wep/hen)











































