Dengan sistem BOT ini, Ajib tak perlu memiliki aset lahan dan modal besar untuk menjadi pengembang. Ia cukup bekerjasama dengan mitra pemilik lahan dan investor. Lalu sistem BOT apakah benar-benar menjanjikan seperti umum diterapkan dalam konsensi jalan tol?
Pengamat ekonomi kota dan dosen real estate FEUI Ruslan Prijadi mengatakan kerjasama BOT pada dasarnya suatu hal yang lazim dalam bisnis properti. Namun, sistem ini secara teori sangat mudah namun sulit dalam prakteknya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau proses kerjasama semacam itu lazim, seperti hotel besar, misalnya Plaza Senayan, setelah sekian tahun dikembalikan ke pemerintah. Tapi mungkin nggak sih orang awam melakukan itu. Kalau saya melihat orang yang awam, hampir dipastikan ketipu," katanya kepada detikFinance, Jumat (8/3/2012)
Menurutnya seorang yang menerapkan sistem BOT harus memiliki pengalaman, kepercayaan dari investor, dan menyediakan waktu yang cukup untuk mengelola bisnisnya.
"BOT apapun namanya sangat tergantung dengan kontrak, pada awal menerima berapa, di ujungnya berapa," katanya.
Namun, ia menuturkan bagi seorang pemilik lahan maupun investor tentunya memang tak mudah percaya kepada pihak yang mengajukan sistem BOT seperti yang dilakukan oleh Ajib Hamdani saat akan membangun bisnis kos-kosan. Baginya seseorang tak mudah begitu saja menyerahkan asetnya atau uangnya kepada si penggagas BOT.
"Kalau saya sebagai investor disuruh memilih apa kompetisi anda? Nggak semudah itu. Kalau ada orang yang menyerahkan itu antara bodoh, atau memakai modal dari orang lainnya atau modal dirinya sendiri. Yang jelas tidak mudah, meskipun dia punya teman baik," katanya.
Ruslan menambahkan, seorang investor yang memiliki modal untuk membiayai sistem BOT tentunya akan menuntut pihah penggagas BOT, dalam hal ini Ajib Hamdani. Bisnis dengan pola BOT apapun bentuknya termasuk kos-kosan perlu keterlibatan langsung dan memakan waktu untuk mengelolanya.
"Sulit menurut saya, yang punya tanah, dia akan bertanya, anda sudah mengerjakan apa saja, pernah dapat return apa dan berapa dan pengalamannya apa saja, apakah developer besar," katanya.
Bahkan menurutnya sebagai pengembang kecil seperti Ajib Hamdani saat memulai bisnis kost-kostan sulit bersaing melawan pemodal besar yang tentunya lebih peka membaca bisnis seperti kost-kostan ditempat yang strategis.
"Pastinya ada orang yang ahli lebih mengambil dahulu, karena mereka sudah punya tim yang setiap hari mencari informasi, tempat-tempat yang strategis," katanya.
(hen/ang)











































