"Bisa saja sih dibangun. Tapi, yang harus dilihat kan perhitungannya, akses dan pembelinya. Mau nggak nanti masyarakat beli kredit melalui FLPP di kawasan yang jauh dari tempat kerja dan juga berada di pedalaman," kata Eddy saat dihubungi Harian Detik, Senin (12/3/2012).
Menurut Eddy, untuk kawasan Tambun dan Bekasi memang masih ada satu atau dua lokasi yang harga tanahnya berkisar Rp 200 ribu-Rp 300 ribu per meter persegi. Ia menyebutkan program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) tahun ini tidak berjalan lancar karena tidak ada keseriusan dari pemerintah untuk berdiskusi dengan pengembang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pasalnya, hingga sekarang baru 61 unit rumah yang selesai akad kredit melalui PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN). Sementara, bank penyalur kredit lainnya masih nol melakukan akad kredit.
"Kalau target tahun ini 210 ribu tipe 36 berarti sekarang dalam sehari harus 700 unit rumah. Bisa nggak seperti itu. Sekarang saja baru 61 unit rumah. Itu juga dari BTN saja. Kalau target gagal tercapai, siap-siap saja nanti Menteri dapat rapor merah," ujarnya.
(dnl/dnl)











































