Ekonom Bank Mandiri Destry Damayanti menyebutkan, hingga Mei 2012 perkembangan kredit konsumsi mencapai Rp 708 triliun atau 20,3% dari keseluruhan kredit perbankan. Realisasi ini menunjukkan pertumbuhan yang cukup baik dibandingkan realisasi satu tahun lalu yang hanya sebesar Rp 667 triliun atau 24,2%.
Dari kredit konsumsi tersebut, Destry mengungkapkan komposisi kredit konsumsi didominasi Kredit Kepemilikan Rumah (KPR), yang posisinya per Mei ini mencapai Rp 100,4 triliun atau 41,1% dari keseluruhan kredit konsumsi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, Destry mengkhawatirkan kondisi kelas menengah di Indonesia yang kebanyakan masih berada pada perbatasan dengan golongan bawah. Dengan kondisi ini, jika terjadi krisis atau inflasi yang meningkat sewaktu-waktu maka golongan menengah ini bisa terperosok ke golongan bawah.
"Kita punya inflasi yang cukup terkendali, tapi apakah inflasi ini riil atau tidak. Mereka yang middle class ini banyak yang masih di bawah, jadi dibutuhkan kestabilan," tegasnya.
Untuk menjaga kestabilan kelas menengah ini, Destry menilai perlunya perkembangan teknologi. Hal inilah yang dapat mengokohkan kelas menengah tersebut.
"Peringkat daya saing Indonesia itu posisinya 46 dari 130 negara. Ada beberapa indikator terjelek, yaitu di label market, teknologi, kalau bicara rising middle income class, ini harus, kalau tidak akan terjebak seperti Filipina. Ini tantangan ke depan supaya kita punya middle income class yang sustain," katanya.
(nia/dnl)











































