Survei Bank Indonesia (BI) mencatat terjadi penurunan persentase konsumen yang membeli rumah secara tunai atau cash.
Pada triwulan II-2012 konsumen yang membeli rumah secara tunai hanya sebesar 6%, sisanya lebih banyak kredit kepemilikan rumah (KPR) sebesar 82,09% dan tunai bertahap 11,91%.
Padahal transaksi pembelian rumah dengan cara tunai oleh konsumen pada periode yang sama di 2011 lalu sempat mencapai 8,57%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hasil survei mengindikasikan bahwa sebagian besar konsumen 82,09% masih memilih KPR sebagai fasilitas utama dalam melakukan transaksi pembelian properti residensial," jelas survei tersebut seperti dikutip detikFinance, Kamis (23/8/2012)
Kenaikan membeli rumah dengan cara KPR dipicu oleh kemudahan konsumen mengakses fasilitas KPR dan tingkat suku bunga KPR yang mulai menurun. Membeli rumah secara KPR masih didominasi oleh pembelian rumah kecil persentasenya hingga 86,42%.
"Tingkat bunga KPR yang diberikan oleh perbankan khususnya kelompok bank persero (BUMN) umumhya berkisar antara 9% sampai dengan 12%," jelas survei itu.
Survei itu juga mencatat dari total KPR yang dikucurkan oleh perbankan dari Januari-Juni 2012, sebanyak 0,88% dalam bentuk fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) atau KPR subsidi, sedangkan 99,12% dalam bentuk KPR komersial (non FLPP).
Sebagai pembanding, survei BI pada triwulan II-2011 mengindikasikan sebagian besar konsumen 71,08% masih memilih KPR sebagai fasilitas utama dalam melakukan transaksi pembelian rumah. Sementara 20,35% dalam bentuk tunai bertahap dan 8,57% dalam bentuk tunai. (hen/dnl)
