Demikian disampaikan Direktur Utama BTN, Iqbal Latanro di Hotel Pullman, Jakarta, Kamis (6/12/2012).
"Tahun depan kredit FLPP diharapkan 120 ribu unit. Dananya Rp 7 triliun," kata Iqbal. Namun ia enggan merinci sumber pendanaan kredit program FLPP tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menjelang akhir 2012, Iqbal mengaku pembiayaan rumah bersubsidi melalui BTN sudah mencapai 50.000 unit. Ini terdiri dari kredit FLPP 20.000 unit, serta 30.000 unit kredit non subsidi sebagai pemecahan masalah saat FLPP mandek.
Pencapaian 50.000 unit kredit rumah murah, lanjut Iqbal, sudah tergolong baik. Pasalnya, kekisruhan regulasi sempat menjadikan pengembang ogah membangun rumah murah.
"Mereka nggak mau bangun, lebih baik bangun kredit komersial. Tapi saat ini sudah mulai disosialisasikan lagi untuk kembali membangun.
Hingga kini, portofolio KPR perseroan terbagi hampir merata. Rasio kredit rumah murah mencapai 49%, sedangkan kredit komersial 51%.
Sebagai catatan, hingga triwulan III-2012 perseroan mencatat pertumbuhan 29,1% dari Rp 59,31 triliun pada 30 September 2011 menjadi Rp 76,57 triliun pada 30 September 2012. Perseroan optimis akan pertumbuhan kredit Bank BTN. Optimisme ini didukung dampak yang akan muncul pasca dikeluarkannya keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) tentang batasan ukuran rumah yang dapat diberikan KPR melalui kredit program dengan minimal ukuran 36 m2.
"Keputusan ini akan berdampak posistif bagi terbukanya bisnis pembangunan perumahan untuk tipe rumah dibawah 36 m2 yang sebelumnya sempat tertahan namun sekarang beberapa sudah siap untuk dilanjutkan kembali pembangunannya guna mendapatkan dukungan kredit perbankan," papar Iqbal.
(wep/dru)











































