"Sebagai direksi perusahaan yang bergerak di bidang properti, wajar saja kalau tertarik dalam proyek Giant Sea Wall, seperti proyek yang lain, melihat semua kemungkinan untuk pengembangan usaha," kata Direktur PT Danayasa Arthatama Tbk Agung R Prabowo kepada detikFinance, Senin (18/11/2013)
Agung mengatakan Giant Sea Wall merupakan proyek yang sangat besar. Sehingga proyek yang diinisiasi oleh pemerintah ini harus ditangani dengan menyeluruh termasuk kemungkinan hadirnya investor swasta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu salah satu pemegang saham perseroan, pengusaha Tomy Winata mengaku tak tahu menahu soal rencana PT Danayasa Arthatama Tbk di proyek Giant Sea Wall. Tomy mengaku sudah satu minggu di Timor Leste dan saat ini ada di Singapura jadi belum tahu perkembangan terbaru.
"Pak Agung kan direksinya perusahaan-perusahaan Terbuka (Tbk), mungkin PT Tbk punya minat. Kalau saya pribadi agak aneh dan mudah-mudahan saya yang salah, mohon maaf," jelas Tomy.
PT Danayasa Arthatama Tbk adalah perusahaan yang memiliki Sudirman Central Business District (SCBD) seluas 45 hektar di Jakarta. Tomy menguasai saham Danayasa melalui PT Jakarta International Hotels & Development Tbk (JIHD).
Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto mengatakan Kamis pekan lalu, pihak Artha Graha melalui Agung R. Prabowo menemuinya. Salah satu pembahasannya soal proyek tanggul raksasa, yang kini memang sedang disiapkan pemerintah pusat. Pada saat pertemuan itulah, muncul gagasan menggarap mega proyek tersebut secara bersama antara pemerintah dan swasta
"Pemerintah sudah punya tim dan konsultan. Kok sama dengan ide kami, apakah kami bisa membantu, karena ide ini hampir sama kenapa kita nggak sama-sama saja," kata Djoko menirukan.
Dalam pertemuan itu juga sempat dibahas soal pendanaan proyek tanggul raksasa Jakarta. Secara pribadi, Djoko berharap swasta bisa masuk ke proyek ini, dan ia sangat senang dengan tawaran dari pihak GBLS.
"Jadi jangan dibuat pemerintah tapi semuanya swasta Kita senang sekali kalau seperti itu," kata Djoko Kirmanto.
Wakil Menteri Pekerjaan Umum Hermanto Dardak pernah mengatakan, Belanda akan membantu pembiayaan dan tenaga ahli terkait rencana pembangunan Giant Sea Wall di Teluk Jakarta. Hal ini merupakan bagian dari rencana strategis Jakarta Coastal Defence (JCD) yang desainnya ditargetkan selesai 2013. Proyek ini diperkirakan akan menelan senilai US$ 5 miliar atau sekitar Rp 45 triliun.
(hen/dru)











































