Ini Negara yang Harga Propertinya Naik Tinggi dan Terancam Krisis

Ini Negara yang Harga Propertinya Naik Tinggi dan Terancam Krisis

- detikFinance
Senin, 25 Nov 2013 10:36 WIB
Ini Negara yang Harga Propertinya Naik Tinggi dan Terancam Krisis
Foto: dok.detikFinance
Jakarta -

1. Australia

Di negeri kanguru ini, harga perumahan naik sangat cepat. Menurut International Monetary Fund (IMF), harga properti di Australia naik tak wajar.

Di Sydney, kota dengan populasi besar, harga properti naik 13% tahun ini, menjadi rata-rata US$ 718.122 atau sekitar Rp 7,1 miliar. Ini lebih tinggi dari London yang rata-rata harga propertinya US$ 536.236 atau sekitar Rp 5,3 miliar. Harga rata-rata properti di Australia mendekati New York yang mencapai US$ 806.000 atau sekitar Rp 8 miliar.

Menurut IMF, risiko gelembung pasar properti bakal pecah dan menimbulkan krisis juga terjadi di Melbourne dan Brisbane. IMF meminta regulator untuk memantau ketat investasi properti, dan memastikan bank tidak jor-joran mengucurkan kredit sektor properti.

2. Brasil

Pemenang Noble ekonomi Robert Shiller memperingatkan pemerintah Brasil soal panasnya pasar properti di Brasil. Pada kota-kota besar di Brasil, seperti Sao Paolo dan Rio de Janeiro, harga properti naik 188% dan 230% sejak Januari ini. Ini adalah kenaikan yang paling cepat.

Dalam 5 tahun terakhir ini, harga rumah naik dua kali lipat di Brasil. Kondisi ini jelas-jelas mengancam perekonomian, karena krisis bisa terjadi kapan saja di Brasil.

Kenaikan harga properti sangat tinggi, dan akhirnya orang-orang sulit membeli rumah di negara tersebut.

3. Selandia Baru

Pada awal tahun 2000 lalu, kredit kepemilikan rumah sangat mudah dicairkan di negara ini. Sehingga saat harga rumah jatuh, timbul kredit macet, dan negara jatuh dalam resesi.

Masyarakat bawah, sekarang membantu pemulihan sektor properti di Selandia Baru, namun mereka malah membuat harga rumah naik tinggi. Seperti di Auckland, yang harga rumahnya naik 17% dalam setahun. Peringatan risiko krisis juga terjadi di Selandia Baru.

Karena itu, pemerintah negara ini memperketat syarat kredit perumahan.

4. China

Pada negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia ini, real estate menjadi pilihan investasi yang paling aman bagi warganya. Tak heran, harga properti naik gila-gilaan.

Pada September 2013. harga properti naik cepat dalam 3 tahun terakhir. Di Beijing, pada September 2013 lalu, harga properti naik rata-rata 16%, di Shanghai naik 17%, dan di Shenzen naik 20%.

Banyak orang yang khawatir akan terjadinya bubble dan menimbulkan krisis di China, seperti yang terjadi di AS. Ini membuat pemerintah China melakukan pengetatan pembelian rumah di sejumlah kota-kota besar.

Namun harga rumah tetap terus naik, karena warga China lebih memilih berinvestasi di properti ketimbang investasi pada pasar modal atau saham.

5. Amerika Serikat (AS)

Banyak orang berpikir, harga properti di AS saat ini sedang dalam pemulihan pasca krisis perumahan hebat di 2007 lalu. Namun, ternyata harga properti di negara ini masih tinggi. Ini menurut bank sentral AS yaitu Federal Reserve atau The Fed. Ancaman krisis masih menghantui.

"Saya melihat awal dari tanda-tanda bahwa di wilayah saya, dan di seluruh negeri ini, bahwa sekali lagi, kita memasuki bubble perumahan. Kita harus berhati-hati dengan mortgage-backed securities purchase program," kata President The Fed untuk Dallas Richard Fisher.

Secara nasional, kenaikan rata-rata harga rumah di AS mencapai 12,5% selama kuartal III-2013.
Halaman 2 dari 6
(dnl/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads