Meski Kena Bully, Ini Plus Minus Properti di Kawasan Bekasi

Meski Kena Bully, Ini Plus Minus Properti di Kawasan Bekasi

- detikFinance
Senin, 13 Okt 2014 14:42 WIB
Meski Kena Bully, Ini Plus Minus Properti di Kawasan Bekasi
Jakarta - Kawasan Bekasi, Jawa Barat tetap menjadi pilihan konsumen dan pengembang sebagai kawasan hunian kelas bawah, menengah, hingga atas. Kawasan penyangga di timur Jakarta ini memang punya sisi minus untuk hunian, meskipun punya beberapa kelebihan.

Nama Bekasi mencuat belakangan ini karena menjadi bahan pembicaraan di sosial media. Masyarakat mengeluh soal kondisi cuaca di Bekasi yang panas, jalan rusak, kondisi air tanah, hingga macet parah.

"Bekasi masih menjadi lokasi yang ideal untuk properti. Bekasi mempunyai kawasan industri yang berpengaruh terhadap perumahan bisa bertumbuh. Kawasan industri menarik investasi dan membutuhkan tenaga kerja. Tren membuat kawasan industri dalam kota ini gunanya untuk mempermudah kegiatan ekonomi dan menajemennya menjadi lebih irit," kata Associate Director Research Colliers International Indonesia Ferry Salanto kepada detikFinance, Senin (13/10/2014)

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya hal ini yang menjadikan Bekasi masih menjadi incaran konsumen maupun pengembang untuk hunian, dan mengembangkan bisnisnya. Selain dekat dengan kawasan industri, di Bekasi kini bermunculan pusat-pusat komersial baru seperti trade center maupun mal, hingga pusat hiburan. Positifnya, warga Bekasi tidak usah pergi jauh-jauh ke Jakarta.

"Isu mengenai Bekasi panas, saya kira di semua area iklimnya sama karena memang sekarang sedang musim panas. Kemungkinan ada karena faktor pembangunan di Bekasi sedang naik sehingga dapat mempengaruhi suhu panas," katanya.

Namun Ferry, mengakui infrastruktur jalan di Bekasi masih banyak yang rusak dan transportasi yang masih terbatas. Hal ini lah menjadi kelemahan properti di Bekasi, yang memang terletak di pinggir Jakarta.

“Infrastruktur jalan masih rusak karena harus adanya kerja sama antara pihak properti dan pemerintah karena infrastruktur jalan menjadi kunci menarik konsumen," katanya.

Ia mengakui kawasan hunian di Bekasi masih didominasi kalangan menengah dan bawah. Harga rata-rata properti di Bekasi untuk segmen menengah Rp 300-500 juta per unit. Ferry memperkirakan beberapa tahun ke depan rentang harga rumah kelas menengah di Bekasi masih di rentang tersebut.

Sebelumnya Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda mengatakan kawasan properti di Bekasi termasuk dalam radar peringatan soal prospeknya yang mulai jenuh untuk segmen properti tertentu. IPW mencatat di Bekasi ada peluang over supply apartemen menengah, namun di sisi lain, kawasan ini, untuk segmen perumahan menengah masih berpotensi.

Beberapa hari terakhir Bekasi menjadi sorotan lantaran menjadi candaan ‎dan bahan 'bully' di sosial media. Mulai dari macet, jalan rusak hingga cuaca panas digambarkan dalam beberapa 'meme' sebagai bentuk kritik.

Hal ini mendapat tanggapan Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi, yang menangkis anggapan-anggapan miring tersebut.

"Menurut saya apa yang terjadi di medsos (Bully) adalah orang yang cara pandangnya berbeda dan agak kurang bergaul dan minimnya wawasan tentang pembangunan sebuah kota," kata Rahmat.

(hen/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads