"Pelemahan di sektor perkantoran terjadi karena kondisi ekonomi global dan GDP Indonesia," ujar Head of Research dari lembaga riset properti Jones Lang LaSalle (JLL), James Taylor dalam media briefing di Gedung Bursa Efek Indonesia Lantai 19, Jakarta, Rabu (5/10/2016).
Lesunya industri properti tersebut salah satunya terlihat dari penyerapan permintaan untuk perkantoran. Secara year to date (ytd), penyerapan permintaan sampai triwulan III-2016 tercatat 10.000 meter persegi, lebih rendah dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 50.000 meter persegi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini tidak memungkiri ke depan okupansi dan rental akan tertekan posisinya. Pasar penyerapan berasal dari e-commerce dan pelayanan bisnis. Sementara perusahaan minyak dan gas mengalami penurunan permintaan," jelas dia.
Namun demikian, pasar properti Indonesia akan kembali bergairah pada 2017 mendatang. Salah satu penyebabnya adalah program Tax Amnesty. Program amnesti pajak akan memberikan sentimen positif terhadap sektor properti terutama kinerja pasar perumahan.
"Impact dari tax amnesty, juga di bulan 6 sampai 12 ini kita lihat. Impact dari tax amnesty itu bisa membawa market perumahan atau properti ke depannya," pungkasnya. (drk/drk)











































