Pengamat properti yang juga sebagai Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch (IPW), Ali Tranghanda, mengatakan pemisahan antara pusat pemerintahan dan pusat bisnis atau perekonomian justru akan menguntungkan masing-masing bagi kota yang ditinggalkan maupun kota yang baru.
Baca juga: Palangka Raya Masuk Radar Calon Ibu Kota Baru RI
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jakarta sebagai pusat bisnis akan lebih diuntungkan dengan tidak terganggunya aktivitas bisnis atau perekonomian oleh aktifitas politik dan pemerintahan. Sedangkan kota barunya akan menjadi satu sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi Indonesia.
"Sama seperti New York dan Washington, kedua kota masing-masing beda karakternya. Jakarta sebagai pusat bisnis sendiri saja, malah lebih bagus seperti itu. Jangan ini kota pemerintahan, kota politik, kota bisnis, campur aduk semua di Jakarta. Jadi enggak fokus bisnisnya. Tapi ketika Jakarta hanya jadi kota bisnis, itu akan lebih bagus, karena dia tidak terpengaruh oleh tensi politik, seperti demo dan segala macam," ungkapnya.
Baca juga: Ibu Kota Pindah ke Luar Jawa, Bagaimana Pasar Properti di Jakarta?
"Jadi nanti yang diuntungkan itu Jakarta dan Palangka Raya. Jakarta lebih pasti, bisnisnya lebih fokus, jadi enggak campur aduk. Kalau Palangka Raya, jadi ibu kota yang baru, itu akan meningkatkan ekonomi wilayah, bahkan akan luar biasa. Termasuk properti di Palangka Raya juga," tambahnya. (hns/hns)










































