Pasalnya, harga rumah khususnya di wilayah Jakarta sudah sangat tinggi. Di Jakarta, harga rumah rata-rata sudah di atas Rp 1 miliar, angka tersebut dinilai sudah tak masuk akal terutama bagi milenial yang memiliki gaji Rp 7 jutaan. Hal itulah yang menyebabkan kaum milenial sulit memiliki rumah.
Namun, CEO Indonesia Property Watch, Ali Tranghanda, mengatakan masalah harga bukan satu-satunya hal yang menyebabkan milenial sulit untuk memiliki rumah. Salah satu faktor lainnya ialah karena milenial saat ini tak berfikir jangka panjang untuk memiliki rumah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pola pikir seperti itulah, kata Ali, yang seharusnya sudah mulai diubah oleh kaum milenial. Kaum milenial harus bisa berfikir jangka panjang untuk bisa memiliki sebuah rumah.
"Itu masalah gaya hidup, nah gaya hidup itu yg perlu diubah. Ini masalah mindset saja sih," kata Ali.
Padahal, kata Ali, saat ini milenial bergaji Rp 7 juta-an masih bisa membeli rumah yang berlokasi di luar Jakarta. Beberapa wilayah seperti daerah Bogor, Bekasi Timur, atau bahkan di wilayah Balaraja, masih tersedia rumah murah dengan harga Rp 300 jutaan yang masih dapat dijangkau milenial.
Dengan harga yang relatif terjangkau itu, kaum milenial sudah bisa membeli rumah yang cocok bagi mereka.
"Dulu kita bicara landed tipe 36, kemudian berkurang lagi tipe 21. Masih ada rumah yang terjangkau di luar Jakarta. Pasangan muda bisa beli rumah di luar Jakarta. Rp 300 jutaan masih ada kalau mau dicari. Di Maja juga ada 150 juta, Jadi masih mungkin kalau milenial sekarang ini," pungkasnya. (dna/dna)