Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 19 Des 2017 10:52 WIB

Ini yang Bikin 'Kids Jaman Now' Makin Susah Beli Rumah

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Foto: Tim Infografis: Luthfy Syahban
Jakarta - Generasi milenial diprediksi bakal sulit punya rumah di masa depan, lantaran harga rumah yang terus tinggi setiap tahunnya. Hal ini menjadi tantangan yang perlu diperhatikan lebih serius lantaran angka backlog atau kekurangan pasokan perumahan di Indonesia sendiri mencapai 400 ribu unit setiap tahunnya.

Demikianlah diungkapkan oleh Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) dalam acara Seminar di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Selasa (19/12/2017).

"Saat ini ada 35% generasi milenial yang perlu dijangkau. Karena nanti di tahun 2020, jumlahnya ini bahkan bisa naik hampir dua kali lipat. Ini suatu potensi yang harus kita siapkan, apa sih kepentingan mereka-mereka ini. Jangan sampai backlog enggak turun karena ternyata permintaannya enggak sesuai," ujarnya.

Dalam paparannya, Maryono mengungkapkan, setidaknya ada empat tantangan dari sektor properti di tahun 2018 dalam menjawab kebutuhan hunian bagi generasi milenial tadi. Tantangan pertama adalah tidak tercukupinya pasokan rumah untuk memenuhi target pemangkasan backlog atau kekurangan pasokan rumah.

"Angka backlog rumah itu sampai 13,3 juta. Ditambah lagi kekurangan suplai 400 ribu unit setiap tahunnya. Program sejuta rumah disiapkan untui menjadi alat yang sangat tepat sekali dan sangat strategis menjawab tantangan itu. Khususnya untuk konsumen rumah dari backlog ini, yakni masyarakat kelas menengah bawah," katanya.

Tantangan selanjutnya adalah tidak tersedianya lahan yang cukup untuk membangun properti. Hal ini bertambah sulit karena harga lahan yang setiap tahun semakin tinggi.

Hal lainnya yang menjadi tantangan menjawab kebutuhan rumah adalah regulasi pertanahan yang belum terstandarisasi untuk di setiap daerah. Dan yang terakhir adalah sedikitnya masyarakat berpenghasilan rendah atau MBR yang masuk kategori bankable, sehingga sulit mengakses pembiayaan KPR.

"Padahal menurut data BPS di 2015, kalangan MBR dengan penghasilan di bawah Rp 3 juta paling banyak membutuhkan tempat tinggal, backlog di MBR informal tercatat mencapai lebih dari 6 juta unit," tutur Maryono.

BTN selaku bank penyalur kredit perumahan berkomitmen membantu pemerintah merealisasikan Program Sejuta Rumah. Tercatat selama 2015 hingga November 2017, bank pelat merah itu telah berkontribusi lebih dari 1,6 juta unit rumah baik berbentuk KPR ataupun kredit konstruksi perumahan dengan nilai lebih dari Rp 177,24 triliun.

Sejak Januari- November 2017, bank berkode BBTN itu telah merealisasikan KPR untuk 223.373 unit rumah dan kredit konstruksi untuk perumahan untuk 326.326 unit rumah dengan nilai keseluruhan sebesar Rp 60,94 triliun.

Khusus untuk KPR Subsidi sebanyak 390.375 unit baik berbentuk KPR ataupun kredit konstruksi perumahan dengan nilai lebih dari Rp 29 triliun. Angka tersebut sudah mencapai lebih dari 82% target tahun 2017 yang dipatok 666.000 unit rumah.

"Kebutuhan generasi milenial saat ini adalah kecepatan dan kemudahan mencari informasi dan mengeksekusi keputusan finansialnya, baik untuk menabung, maupun berinvestasi," pungkas Maryono. (eds/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com