Follow detikFinance
Selasa, 09 Jan 2018 15:14 WIB

Penjualan Properti Lesu, Begini Dampaknya

Selfie Miftahul Jannah - detikFinance
Foto: Rengga Sancaya Foto: Rengga Sancaya
Jakarta - Perkembangan bisnis properti di 2017 bisa dikatakan lesu. Akibatnya, banyak target pembangunan apartemen di Jakarta yang terdampak.

Hal tersebut disampaikan oleh Konsultan Properti Senior Associate Director Colliers Indonesia, Ferry Salanto. Dari target rencana penyelesaian pembangunan apartemen di kawasan Jakarta yaitu sekitar 21.167 unit apartemen, ternyata hanya 38% yang selesai di tahun 2017.

"Apartemen yang terlihat dari tahun 2017 itu terlihat dari konstruksi. Di awal ada 21.167 proyek yang masuk akan selesai 2017. Tapi nyatanya 38% yang komplit. Di tahun 2018 ini akan meningkat ini tambahan dari gedung yang proyeksikan yang belom selesai dan proyeksi gedung yang bangun tahun 2018," ungkap dia dalam paparan di Mercantile Athletic Club, Jakarta, Selasa (9/1/2018)..

Dirinya mengungkapkan, pembangunan apartemen berjalan lambat karena banyak developer yang kesulitan pendanaan, imbas dari rendahnya permintaan masyarakat untuk membeli apartemen.

Karena permintaan rendah, pengembang jadi kesulitan mengumpulkan dana awal untuk melakukan pembangunan. Seharusnya dana awal itu bisa diperoleh dari pembayaran uang muka yang dibayarkan konsumen.

"Proyeksi apartemen ini berubah-ubah, awal tahun ini mereka akan selesai sekian, tapi jadinya hanya berapa, salah satu faktornya juga jualannya tidak sesuai ekspektasi," kata dia.

Kondisi ini menjadi kekhawatiran tersendiri bagi kalangan pengembang apartemen. Karena, banyaknya produksi apartemen yang tersedia belum sebanding dengan tingkat penyerapan apartemen yang ada.

Di tahun 2018 saja misalnya, diproyeksi ada 34.000 unit apartemen yang bakal rampung. Angka tersebut terdiri dari 24.000 unit yang memang ditargetkan rampung di 2018, dan ditambah dengan 10.000 unit apartemen yang tertunda penyelesaiannya di 2017.

Menurut Ferry, pasokan jumlah apartemen tersebut cukup besar mungkin paling besar beberapa tahun ke belakang.

"Lini proyeksi saat ini kalau 2018 agak mengerikan dari supply-nya sedangkan penyerapan per tahun itu enggak se-tinggi supply tahunannya," kata dia. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed