Kebanyakan Suplai, Ruang Kantor di Jakarta Banyak yang Kosong

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Rabu, 04 Jul 2018 14:45 WIB
Foto: Rengga Sancaya
Jakarta - Pembangunan kawasan pusat perkantoran di Jakarta diprediksi akan terus mengalami peningkatan hingga 2023 mendatang. Namun, kenaikan jumlah suplai pusat perkantoran (CBD/Central Business District) itu tak diiringi dengan tingkat hunian atau okupansi yang sebanding.

Konsultan Properti Senior Associate Director Colliers Indonesia, Ferry Salanto menjelaskan permasalahan utama yang terjadi pada bisnis di sektor penyewaan perkantoran ialah karena jumlahnya yang terlalu banyak.

"Sampai 2023 masih ada yang akan bangun. Tapi nanti 2019-2020 mulai berkurang, lalu 2021-2023 akan ada lagi supply yang akan masuk, terutama dari pengembang asing yang melihat sektor perkantoran yang menjanjikan," kata Ferry dalam laporannya di Mercantile Athletic Club, Jakarta, Rabu (4/7/2018).

Dengan banyaknya jumlah pusat perkantoran yang ada, maka pemilik properti akan memberikan harga sewa yang lebih rendah untuk menarik konsumen. Selain, itu penyewaan atau konsumen juga diprediksi akan banyak diberikan agar penyesuaian kontrak sewa lebih efisien.

"Dengan tenant market masih mendominasi pemilik properti akan beri harga sewa yang lebih rendah dan kontrak sewa yang lebih fleksibel. Ada opsi yang bisa beri keuntungan lebih ke penyewa," jelasnya.



Lebih dari itu, adanya bisnis co-working space yang mulai berkembang juga menjadi salah satu faktor yang bisa membuat tingkat okupansi di pusat perkantoran konvensional tak sebanding dengan jumlahnya.

"Kita juga melihat bahwa bisnis co-working masih akan terus berkembang dan permintaan utama bisnis perkantoran. Meskipun mereka masih belum bersaing dengan gedung konvensional," katanya.

Sementara, berdasarkan laporan dari Colliers Quartly sendiri, jumlah pusat perkantoran yang ada di CBD dan luar CBD hingga tahun 2021 diperkirakan ada sekitar 11,5 juta meter persegi gedung perkantoran baru.

"Di CBD sendiri dari 11,5 meter persegi 7,5 jutanya gedung perkantoran di CBD. Tingkat kekosongannya 2 juta meter persegi. Jadi ini kondisi yang cukup berbeda dari beberapa tahun sebelumnya, bahwa ada satu sisi permintaan menurun, tapi pasokan bertambah," jelasnya.

Dengan adanya tingkat kekosongan tersebut, maka tingkat okupansi hingga akhir 2019 juga akan mengalami penurunan menjadi 79% di kawasan CBD, dan 80% di luar CBD.

"Dulu 85%, tapi sekarang dengan adanya proyeksi gedung-gedung akan masuk sampai 2019, perkiraan kami akan turun okupansi jadi 79% di CBD pada 2019. Di luar CBD 80%, juga ada penurunan 2-3% dalam kurun waktu 1 tahun," tuturnya.

(fdl/eds)