Rupiah Anjlok, Pengembang Disarankan Bangun Rumah Bersubsidi

Danang Sugianto - detikFinance
Selasa, 04 Sep 2018 11:07 WIB
Foto: Danang Sugianto
Jakarta - Anjloknya nilai tukar rupiah menarik perhatian banyak pihak terutama dunia usaha. Kondisi ini membuat para pelaku dunia usaha berhati-hati dalam menjalankan bisnisnya.

Dari sisi industri properti, pelaku usaha disarankan untuk fokus mengembangkan perumahan bersubsidi. Sebab untuk membangun jenis perumahan ini tidak membutuhkan bahan baku impor.

"Pembangunan rumah subaidi ini zero devisa dan almost 100% lokal konten," kata Ketua Kehormatan Real Estate Indonesia (REI), Lukman Purnomosidi dalam acara diskusi Indonesia Housing Creative Forum di Hotel Ambhara, Jakarta, Selasa (4/9/2018).

Menurut Lukman dengan berkembangnya pembangunan perumahan subsidi juga bisa membantu menyelamatkan perekonomian nasional. Selain menghemat devisa, juga mampu mendorong penyebaran pembangunan ekonomi.

"Pembangunan rumah subsidi ini kan menyebar ke seluruh wilayah, kalau seperti itu penyebaran ekonomi bisa merata," tambahnya.


Lukman menilai, sebenarnya peluang di perumahan bersubsidi cukup besar. Pangsa pasarnya juga masih banyak, seperti para PNS kelas bawah yang bekerja di RSUD, kantor kecamatan, kelurahan.

"Jadi ini demand-nya banyak sebenarnya, bisa dilakukan setiap kecamatan 100 unit rumah. Jadi ini modal yang kuat. Perumahan subsidi ini quick start," terangnya

Sayangnya, minat dari pelaku properti terhadap perumahan bersubsidi belum begitu besar dan merata. Hal itu terlihat dari masih kecilnya penyaluran KPR Subsidi melalui program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP)

"FLPP berapa si realisasinya? Tadi pagi saya baca di koran baru 15 ribu," ujarnya.
(das/ang)