Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 05 Nov 2018 17:20 WIB

Milenial Dinilai Tak Bisa Beli Rumah, Pengembang Usul Ada Insentif

Zulfi Suhendra - detikFinance
Foto: Danang Sugianto Foto: Danang Sugianto
Jakarta - Generasi milenial dinilai tak bisa membeli rumah karena pola hidup yang boros juga harga properti yang terus naik. Padahal, pasar properti untuk segmen ini sangat besar.

Untuk mengatasi hal tersebut, pengembang mengusulkan ada intensif khusus bagi kaum milenial agar bisa membeli rumah. Dengan begitu, ada peningkatan minat bagi generasi yang lahir antara tahun 1981-1994 tersebut untuk punya rumah.

Ketua DPD REI DKI Jakarta Amran Nukman melihat perhatian pemerintah kepada generasi milenial sebetulnya sudah tampak di beberapa sektor. Presiden Jokowi dalam beberapa kesempatan sering mengatakan bahwa generasi milenial itu adalah tulang punggung ekonomi Indonesia masa depan. Sementara itu ada riset juga yang mempublikasikan, akibat harga rumah tidak sebanding dengan pendapatan mereka, generasi milenial terancam tidak bisa memiliki rumah pada 2020.


"Nah, hal itu tentu harus menjadi perhatian pemerintah dan otoritas perbankan. Bagaimana agar ada insentif atau paket-paket kebijakan perumahan untuk mereka. Sampai sekarang kami belum melihat intervensi regulator menyentuh sektor perumahan bagi generasi milenial itu. Padahal ini mendesak. Ini alarm serius yang harus ditindaklanjuti regulator," tegasnya di sela-sela ajang pameran Properti dan Otomotif di ICE, BSD, Tangerang Selatan dalam keterangannya, (5/11/2018).

Menurut Amran, kebanyakan milenial punya penghasilan di atas Rp 5 juta, sehingga tak dapat subsidi perumahan dari pemerintah. Sementara untuk membeli rumah komersial dengan harga Rp 300 -Rp 500 jutaan pun sulit.

Untuk itu Amran mengusulkan, supaya generasi milenial bisa memiliki hunian, mereka sebaiknya diberi fasilitas membeli rumah semi MBR dengan harga Rp 140 juta - Rp 500 juta dengan 50% subsidi FLPP. Sementara di sisi pajak, mereka juga diberi keringanan PPN dan PPh.

"Generasi milenial ini perlu disentuh program subsidi supaya income mereka bisa dibelanjakan secara produktif. Tarik mereka membeli hunian yang bisa menjadi aset produktif bagi mereka. Kalau tidak, maka generasi milenial ini bisa menggerus devisa karena mereka cenderung lebih memilih traveling ke luar negeri," ungkapnya.


Besarnya potensi pasar perumahan generasi milenial diaminkan Ketua Kehormatan REI Lukman Purnomosidi. Karena itu menurutnya harus disikapi otoritas perbankan dengan memberikan berbagai kemudahan.

Regulator lanjutnya harus membuat formulasi,skim-skim baru bagi generasi milenial agar mereka mampu memiliki rumah sendiri. Lukman berkeyakinan meski anak muda makin sulit membeli rumah, namun mereka bisa diselamatkan dengan insentif khusus agar bisa membeli rumah dengan rentang harga Rp 200 juta hingga Rp 500 juta,

"Mereka mampu kok mencicil Rp 3 juta hingga Rp 6 juta per bulan. Namun, harus diberi insentif supaya aware untuk membeli rumah," imbuhnya.

Sementara itu Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (DPP REI) Soelaeman Soemawinata, mengatakan kelompok milenial berusia 25 hingga 35 tahun dengan rentang penghasilan antara Rp 8 juta hingga Rp 20 juta-an per bulan menjadi target pangsa pasar bagi industri perumahan.

"Kelompok primer ini merupakan target end-user. Mereka belum memiliki rumah karena tidak memiliki tabungan yang cukup untuk bayar uang muka pembelian rumah. Selama ini penghasilannya selalu habis untuk membiayai gaya hidup yang mahal seperti bergonta-ganti gawai, traveling ke lokasi tujuan wisata, atau hang-out di restoran dan kafe," kata Eman. (zlf/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed