Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 09 Jan 2019 17:34 WIB

Meski Ada Perang Dagang, Orang China Borong Rumah di AS

Danang Sugianto - detikFinance
Foto: Internet/ebcitizen.com Foto: Internet/ebcitizen.com
Jakarta - Konsumen China belakangan ini mengurangi beberapa produk asal Amerika Serikat (AS). Salah satu produk yang merasakan kemerosotan adalah iPhone.

Namun ternyata hal itu tidak berlaku bagi pasar perumahan AS. Antusiasme warga China masih besar untuk membeli real estate di AS.

Mereka bahkan menjadi pembeli asing paling banyak kedua untuk produk perumahan AS. Kini mereka juga mulai masuk ke pasar perumahan yang harganya lebih rendah.

"Orang China pada dasarnya agnostik secara politis. Apa yang saya maksudkan adalah meskipun ada ketegangan besar antara pemerintah AS dan China, warga Tiongkok tampaknya dapat memisahkan kekacauan politik dengan investasi real estate," kata Agen Real Estate yang berbasis di San Francisco, Michi Olson dilansir dari CNBC, Rabu (9/1/2018).


Olson mengatakan perbedaan terbesar tahun ini adalah titik harga. Awalnya, pembeli kaya Tiongkok membeli properti bernilai jutaan dolar AS, semuanya dalam bentuk tunai. Sekarang lebih banyak pembeli China kelas menengah mencari rumah dengan harga lebih rendah.

"Orang-orang China masih melihat Amerika Serikat sebagai pelabuhan yang aman di mana mereka dapat membeli aset dan memarkir uang mereka tidak hanya untuk kekayaan mereka tetapi juga untuk masa depan anak-anak mereka," kata Olson.

Beberapa pemberi pinjaman di daerah San Francisco sekarang secara khusus melayani pembeli China. Harga rata-rata rumah yang dijual kepada pembeli China turun dari US$ 530.000 pada 2017 menjadi US$ 439.000 di 2018, menurut Realtors. Sementara California masih menjadi lokasi favorit pembeli China. Mereka mulai melirik ke Texas, Georgia dan Florida.



Laura Barnett menjual real estat di daerah Dallas / Fort Worth dan melihat permintaan China yang sehat di sana. Dia mengatakan sebagian besar pembeli asing masih menggunakan uang tunai.

Selain itu, banyak dari warga China yang bekerja di perusahaan teknologi di AS. Olson mengaku memiliki beberapa klien China yang anak-anaknya sudah bekerja di perusahaan teknologi di California. Orang tuanya akan terbang dari China dengan uang tuna untuk membeli sebuah kondominium. Itu terjadi di tempat lain.

Misalnya, pembeli China berbondong-bondong ke open house di Long Island City di Queens, New York, hanya seminggu setelah Amazon mengumumkan akan membuka kantor pusat baru di sana. (das/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed